Kita Berani atau Tidak Hidup Tanpa Mengenyam Sekolah?

Foto: Ancha/Maiyah ReLegi

Jamaah Maiyah Malang kembali mengadakan rutinan Rebo Legi, untuk edisi yang ke-82 ini mengangkat tema “Lapo Sekolah?”. Momen kebahagiaan tersebut diadakan di aula Sport Center UIN Maulana Maliki Malang. Adanya beberapa kekurangan bukan menjadi masalah bagi para penggiat yang sejak sore sudah mempersiapkan acara, para penggiat dan beberapa jamaah yang datang di awal acara tampak bahu membahu dengan bahagia dalam mempersiapkan acara seperti memasang lampu, cek pengeras suara dan menyiapkan konsumsi bagi para jamaah.

Acara dimulai pukul 20:08 WIB. Kang Dika yang bertindak sebagai moderator mengawali dengan salam, mengajak para jamaah yang datang membaca shalawat dan dipungkasi dengan mengirimkan do’a ke para Marja’ Maiyah, keluarga besar Maiyah di seluruh Nusantara dan para keluarga jamaah yang datang pada malam itu.

Selepas pembukaan, Kang Dika menjelaskan kepada para jamaah yang baru mengikuti rutinan ReLegi kalau di Malang ada beberapa lingkar Maiyah, salah satunya adalah diskusi rutinan yang pada malah rabu legi. Kang Dika juga menjelaskan jika ReLegi pada tahun ini akan lebih fokus ke “Sambang Kampus” sehingga diharapkan akan banyak bermunculan Maika (Maiyah Kampus) di Malang, seperti Maika yang ada di UIN.

Setelah selesai menjelaskan ke para jamaah yang hadir tentang rencana ReLegi, Kang Dika menyerahkan komando jalannya diskusi ke Kang Ardi. Sebagai pemantik berjalanya diskusi, Kang Ardi menjelaskan ke para jamaah yang hadir mengapa dipilihnya tema “Lapo Sekolah?”.

“Entah kenapa ketika ada pertanyaan ‘lapo sekolah?’ itu hampir selalu dikesankan sinis atau menggugat sekolah?” kata Kang Ardi. Padahal, menurutnya, pertanyaan ini bisa juga bermakna upaya menilik kembali ke belakang mengenai niat kita untuk bersekolah.

Kang Ardi juga menambahkan jika kata “Lapo” itu selain bermakna kenapa, juga bisa dimaknai ngapain. “Di sekolah iku lapo ae? Maksudnya, proses bersekolah ini ngapain saja?”

Selanjutnya Kang Ardi mengajak jamaah untuk menelaah kembali sistem pendidikan di negeri ini. “Jangan sampai sistem pendidikan kita saat ini hanya menghasilkan lulusan yang akan dijadikan skrup-skrup industri? Tetapi begitu lulus, kebijakan atau undang-undang yang ada malah merugikan kita,” kata Kang Ardi. “Omnibus Law,” Kang Dika menimpali yang kemudian disusul tawa jamaah.

Selesai pemaparan mukadimah, Kang Dika meminta para jamaah yang hadir untuk mentadabburi apa yang telah di sampaikan Kang Ardi tadi, harapannya agar respon yang datang benar-benar terpikir secara sistematis dan matang.

Sembari menunggu respon datang dari jamaah yang hadir, Kang Dika mempersilahkan Petika Romantik untuk tampil membawakan dua buah lagu. Para jamaah yang hadir ikut menyanyi bersama sehingga menambah kehangatan.

Respon pertama datang dari Kang Miftahul Roziqin. Kehadiran Mas Miftah sangat spesial karena bertepatan pada hari ulang tahunnya. Ia bercerita jika dirinya semasa hidup hanya pernah sekolah sehari saja. “Saya hanya pernah masuk TK sehari saja,” akunya.

Mas Miftah mengungkapkan keherannyanya terhadap para orangtua di lingkungan rumahnya yang memaksa anak-anaknya untuk sekolah. Menurutnya, bersekolah atau tidak sama saja. Sekolah hanya mengajarkan diktat, di sana tidak ada pelajaran kehidupan.

Para jamaah yang yang mayoritas adalah Mahasiswa cukup terkejut dengan pengakuan tersebut dan memberikan tepuk tangan ke Mas Miftah. Kang Ardi yang mendengar pemaparan Mas Miftah langsung ikut merespon, saat ditanya selama tidak sekolah belajar dari mana. Mas Miftah mengaku mulai benar-benar merasa belajar saat mengenal Mbah Nun. “Saya belajar dari Mbah Nun lewat youtube dan buku-bukunya yang saya beli,” ungkap Mas Miftah dibarengi riuh tepuk tangan para jamaah yang hadir.

Respon kedua datang dari Mas Syahriza Mahasiswa Baru UIN Malang. Sebelum merespon tema, Mas Syahriza bercerita dulu saat masih mondok di Jombang suka bolos dari asrama karena ingin sekali mengikuti Padhang Mbulan, alhasil ia sering kena hukuman dari pengurus karena keluar malam tanpa ijin. Menurut Mas Syahriza, tujuan ia sekolah adalah menyenangkan kedua orangtuanya. Selepas  lulus SMA, ia ingin bekerja namun kedua orangtuanya memaksanya untuk kuliah.

“Sekolah dapat di mana saja, kita dapat menyerap banyak ilmu dari berbagai tempat termasuk rutinan Maiyah ReLegi  yang ia ikuti,” tutur Mas Syahriza sembari meminta ijin undur diri karena Ma’had sudah tutup harus segera kembali agar tak mendapatkan sanksi.

Respon ketiga dari Mas Aji. Pendapatnya atas tema malam itu hampir sama dengan yang Mas Syahriza sampaikan, bahwa sekolah dapat di mana saja, tidak mesti di sekolah formal, Lembaga kursus atau yang lainnya. Sembari membaca buku catatan yang di bawa, ia membaca quote dari Rocky Gerung “Ijazah itu adalah tanda anda pernah sekolah, Bukan Berpikir”.

Foto: Ancha/Maiyah ReLegi

Sebelum berlanjut ke reponden selanjutnya, Kang Dika mempersilahkan teman-teman dari UPKM JDFI UIN Malang (Unit Pengembangan Kreativitas Mahasantri Jam’iyyah Da’wah Wa Al Fann Al Islamy) untuk membawakan satu nomor berjudul “Ya Habibal Qolbi”.

Pada Sesi kedua, Kang Dika memilih tiga responden dari jamaah perempuan yang hadir untuk ikut merespon. Terpilih Mbak Apidah, Mbak Dina dan Mbak Novia Ayu.

Mbak Apidah yang kebetulan sebagai pengajar, menceritakan jika dirinya memilih memposisikan dirinya sebagai teman belajar ke anak didiknya di sekolah. Hal tersebut ia lakukan karena para pengajar berfungsi sebagai pemberi stimulus, anak didik dan pengajar memiliki tugas saling sinau bareng, ia tak ingin memposisikan diri untuk menggurui.

Respon kedua dari jamaah perempuan berlanjut ke Mbak Dina yang di awali dengan mengambil kesimpulan dari berbagai respon di sesi pertama. Mbak Dina berkesimpulan bahwa dalam diskusi malam ini ada dua pandangan yang berseberangan, yakni mereka yang menganggap sekolah itu penting dan ada yang berpandangan jika sekolah itu tidak penting.

Mbak Dina lantas memberikan penjelasan bahwa pendidikan adalah sebuah proses mencari kebenaran dan kemungkinan-kemungkinan. “Kita semua yang hadir pasti memiliki pendapatnya masing-masing perihal tema yang kita bahas malam ini, tidak perlu berdebat lebih dalam alasan bersekolah dan tidak. Kita di sini Sinau Bareng, bukan debat bareng-bareng,” pungkasnya. Pendapat terakhir dari Mbak Dina membuat para jamaah tertawa disertai tepuk tangan yang meriah dari seluruh jamaah yang hadir.

“Pasti Jamaah Maiyah tidak asing dengan nama saya! Nama saya Novia. Novia Ayu. Bukan Novia yang lain, lho,” seorang jamaah memperkenalkan diri yang kemudian disambut tawa dari jmaah lainnya.

Foto: Ancha/Maiyah ReLegi

Mbak Novia langsung merespon tema malam itu, menurutnya yang harus diperbaiki dari sistim pendidikan adalah kurikulum pendidikan itu sendiri, yakni kurikulum 13. Berlakunya kurikulum 13 atau biasa disebut dengan K13, membuat para anak didik memiliki padat jam pelajaran belum lagi PR yang para guru bebankan akan dapat membuat mereka tertekan bahkan stress. Bukan hanya anak didik saja yang terbebani melainkan para guru, salah satunya saat mengerjakan RPP 13. Tentu tidak fair jika hanya menyoroti pemerintah selaku pembuat kebijakan, calon tenaga pendidik juga harus dengan serius belajar karena kelak mereka akan menjadi garda terdepan dalam mencerdaskan para penerus bangsa.

Sebelum memasuki sesi ketiga, Kang Dika mempersilahkan Petika Romantik untuk membawakan tiga nomor menemani angin malam yang semakin dingin di tengah-tengah para jamaah.

Kang Dika kembali mempersilahkan para jamaah jika ingin merespon tema sebelum acara di tutup mengingat keterbatasan jam operasional lokasi.

Kang Adim yang dari awal tampak bahagia ikut merespon bahwa sekolah itu asyik, karena dari sekolah kita bisa memiliki group alumni di WhatsApp di mana tidak akan kebingungan saat kita nikah akan mengundang siapa. Sontak pendapat dari Kang Adim mendapat gelak tawa dari para jamaah yang menambah kehangatan suasana pada malam itu.

Momen kehangatan itu semakin intim saat Kang Buna ikut merespon tema. Kang Buna lebih banyak menceritakan pengalamannya saat bersama-sama dengan komunitas Preman Mengajar dan Republik Gubuk yang berada di Pakis, Tumpang dan Jabung. Ia mengisahkan komunitas-komunitas tersebut datang ke kampung-kampung dan membuat gerakan belajar bersama anak-anak.

Kang Buna berpesan kepada para jamaah yang kebetulan banyak mahasiswa untuk mengingat kampung halamannya. Menurutnya, sekolah tinggi harusnya bisa membuat seseorang bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya, khusunya kampung halamannya sendiri.

Sembari duduk i’tirof, Kang Yogi ikut memberikan pendapatnya. Kang Yogi memaparkan jika dahulu, sebelum ada sekolah, orang-orang yang ingin belajar itu harus magang atau nyantrik ke orang-orang yang dianggapnya ahli pada sesuatu hal. Namun di era modern, saat semakin banyak orang yang membutuhkan pendidikan itu, maka dibuatkan ruang-ruang belajar yang belakangan disebut dengan sekolah.

Kang Yogi juga memberikan contoh tokoh-tokoh yang sukses namun mereka tidak tamat sekolah. Menurutnya, sekolah atau tidak adalah sebuah pilihan dimana setiap pilihan punya konsekuensi. Kesadaran akan konsekuensi ini yang penting.  “Pertanyaan dasarnya adalah kita berani atau tidak hidup tanpa mengenyam sekolah?” tuturnya

Kang Yudi Rohmat sebagai pamungkas acara memberikan pemaparan singkat namun cukup dalam. “Saya pernah membaca sebuah hasil penelitian dari Singapura yang di lakukan di Asia Pasific termasuk Indonesia, bahwa kurikulum yang kita pakai sangat berat untuk diterapkan ke para anak sekolah dasar,” katanya.

Ia lantas menceritakan bagaimana dirinya terus “memprovokasi” anaknya sendiri yang saat ini sudah kelas 6 SD untuk nantinya tidak usah sekolah. “Aku gak iso mbayangne anakku akan menjalani beratnya 3 tahun di SMP, 3 tahun di SMA, kuliah dan seterusnya,” terangnya. Kang Yudi inginmemberikan gambaran bahwa dunia pendidikan kita saat ini kurang ramah terhadap anak. Ia juga kembali mempertegaskan pernyataan Kang Ardi di awal diskusi bahwa sekolah itu ada karena menjadi pemasok tenaga kerja.

Malam semakin larut dan telah sedikit melewati waktu yang telah diijinkan oleh pihak kampus UIN, sehingga Kang Dika segera menutup diskusi malam ini dengan berpesan untuk tetap sambung silaturahmi dan mentadabburi hasil diskusi malam ini. ReLegi lantas diakhiri dengan bersholawat bersama dan berdo’a.

Sampai jumpa di edisi ReLegi bulan depan.