Mamah Roso dan Ejakulasi Kesabaran

Sebelumnya penulis menghaturkan permintaan maaf sebesar besarnya ke pembaca dan para sesepuh Maiyah di Religi Malang jika tulisan ini membuat tidak nyaman dan menganggu keharmonisan perseduluran saya dan antar jamaah. Sebagai orang baru di Religi Malang, dan syukur-syukur dapat diterima sebagai keluarga; tentu sangat gembira hati ini dipersilahkan bergabung dalam rutinan khususnya diberikan akses untuk menulis di situs web yang kita cintai semua.

Maiyah Religi edisi 79 dengan tema Mamah Roso tentu sangat spesial bagi saya, selain tema yang bagus dan respon antar jamaah yang membuat pengetahuan saya bertambah, ada hal menarik yang saya tadaburi betul selepas Maiyah Religi selesai, yakni hubungan Mamah Roso dengan kesabaran kita di era pesatnya kemajuan teknologi informasi.

Sebagai generasi 90 an, saya cukup bersyukur karena mengalami kecanggihan teknologi dan informasi dari pelbagai lini kehidupan yg menawarkan kemudahan dan membuatnya menjadi serba instan. Terutama dengan adanya smartphone yang membuat hidup kita menjadi lebih efektif, efisien dan serba cepat. Namun dibalik itu semua, ada hal yang diam-diam tergerus hancur dalam diri saya yakni kesabaran.

Sabar memang bukan watak asli manusia sehingga kita perlu latihan terus menerus. Al Quran menginformasikan, “Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa (QS Al-Isra [17]:11).

Jika bahasan ini saya tarik ke Maiyah, terutama Maiyah offline yang banyak kita temui di seantero Nusantara dengan ribuan jamaah yg dapat bersabar duduk lebih dari enam jam, rela menahan untuk buang air kecil, berbasah-basah dengan hujan, belum lagi kondisi dingin nya cuaca malam dsb. Lantas dimaknai apalagi fenomena semacam itu jika bukan, Kesabaran.

Jika saya pertegas lagi, Mbah Nun dalam beberapa kesempatan di Maiyahan menyatakan kepada anak cucunya agar lebih fokus “Menanam dan Berkebun” dalam artian lebih menekankan proses daripada hasil. Hal ini yg saya maknai sebagai bersabar.

Jika berbicara secara nilai, tugas manusia selama hidup adalah melakukan tugas-tugas yang diperintahkan oleh Allah. Manusia dianjurkan untuk selalu menanam dan menanam, perihal kelak panen atau tidak itu bukan masalah karena itu bukan urusan kita; yang menjadi masalah adalah kita menanam atau tidak.

Manusia diharuskan untuk selalu berikhtiar, kita dititipi kemerdekaan-kemerdekaan kecil dari Allah untuk mengatur setiap episode kehidupan kita. Seperti halnya apapun yg kita lakukan, golnya harus ke Allah. Meski hasil akhirnya Allah sendiri yang memiliki otoritas.

Seperti kata Socrates, “Aku membalut sebuah luka dan Tuhan-lah yang menyembuhkannya”. Dokter bedah menjahit bekas luka, Allah lah yang memerintahkan DNA di kulit dan otot merekat sempurna lagi. Dokter anestesi memberikan obat bius, tapi Allah lah yang menidurkan dan menggenggam sementara jiwa si pasien, begitu pun dengan banyak profesi lainnya. Ingat, bersabar dan ikhtiar.

Nah ini bagian yang saya anggap seru, kembali ke paragraf paling awal. Sabar di era teknologi dan informasi yang serba canggih ini memang gampang-gampang sulit. Mengapa hal ini bisa terjadi? Saya pernah survey kecil-kecilan, meski tidak ilmiah; setidaknya dapat menjadi bahan referensi pembaca semua.

Pertama, saya pernah bertanya ke kawan saya yang sekolah dengan fokus studi sosiologi. Apa yang membuat generasi sekarang gampang sekali menyimpulkan sesuatu, padahal kesimpulannya gerusa gerusu. Jawaban kawan saya tentu panjang dan lebar, tapi yang menarik saat dia menjawab bahwa meme yg tersebar di sosial media hari ini menjadi salah satu sebab utama. Meme itu bisa saja berupa kritikan, pujian, quote dari para (Tokoh bangsa, Budayawan, Komika, Artis) dll. Kita selaku pengguna sosial media secara tidak sadar mempercayai seutas kalimat yang ada dalam meme tersebut sebagai pernyataan baku dari yang bersangkutan.

Kedua, Youtube dan Instagram. Kedua platform sosial media tersebut menurut saya yangg hari ini menjadikan kita sebagai generasi yg tidak sabaran. Banyak vidio yg berada pada vidio tersebut berdurasi pendek seakan menyesuaikan kebiasaan orang sekarang.

Ketiga, Facebook, Twitter, Status WhatsApp dan Insta Story. Apa bedanya dengan alasan pertama yg saya utarakan. Jika alasan pertama cenderung fokus kepada gambar yang ditambahi tulisan, alasan ketiga lebih kepada tulisan-tulisan pendek yg sering kita gunakan dengan platform di atas. Adanya FB, Twitter dll itu membiasakan kita pada tulisan pendek, potongan quote daripada bersusah payah membaca buku. Saya terkadang merasa miris melihat platform di atas menjadi tempat membuat fitnah, curhatĀ unfaedah, pelampiasan murka ke kawan atau keluarga bahkan selingkuh secara terang-terangan.

Khusus pembahasan meme dan potongan quote yang bersumber dari para tokoh, budayawan, politikus, negarawan dll. Saya pernah berdiskusi panjang dengan kawan-kawan yg saya anggap detil dalam persoalan itu. Kami memiliki kesimpulan jika quote yang banyak berterbangan di sosial media tidak bisa menjadi tolak ukur dari seorang tokoh. Perlu ada pemahaman mendetail atau membaca buku dari tokoh tersebut secara keseluruhan, jangan sampai kita mengkonsumsi informasi sop buntut (Informasi sepotong).

Lantas apa yg harus kita lakukan? Lakukan semua aktifitas kita atas dasar Ibadah dan sabar. Hidup saya dan pembaca tidak menentu, esok makan apa dan kapan mati juga kita tidak paham. Bagaimana pun terpuruknya nasib kita jika dihatinya tumbuh sikap sabar, dunia tidak akan menyakiti kita. Orang sabar akan menang karena staminanya panjang, perspektifnya jauh kedepan dan orang sabar menggenggam cakrawala hari esok.

Sabar merupakan kemampuan menunda respon terhadap rangsangan yg dirasa tidak nyaman ataupun sangat menyenangkan.

Jadi, berlatihlah merespon ketidakjelasan dan ketidak mungkinan hidup ini dengan banyak bersabar.