Bahagia: Memberi atau Menerima?

 

Di pertengahan tahun ini Perserikatan Bangsa-Bangsa, PBB, merilis laporan terbaru tentang tingkat kebahagiaan sejumlah negara. Dalam laporannya, World Happiness Report yang merupakan salah satu organisasi PBB, Indonesia berada pada peringkat 96 dari 156 daftar negara yang dirilis.

Bagi sebagian orang memberi peringkat atas kebahagian orang lain tampak sedikit aneh. Betapa tidak, kebahagiaan yang notabenenya merupakan sebuah perasaan yang secara individual berbeda bagaimana mungkin untuk diberikan peringkat, apalagi yang diberi peringkat adalah sebuah negara. Olah karena itu dalam pertemuan maiyah edisi ke 78, yang diselenggarakan pada 22 oktober 2019 di kedai Pass Coffee, kali ini memakai tema “Hayya ‘Alall Falah” atau dapat diartikan “mari menuju ‘kebahagiaan’”.

Acara diawali dengan pembacaan Sholwat Nariyah yang dipandu oleh Mas Tio, santri dari Al-Hikam. Kemudian Mas Ardi melanjutkan dengan ngebeber keloso diskusi dengan mengatakan kepada jamaah untuk tidak terintimidasi dengan standarisasi kebahagian yang dibuat dari sudut pandang masyarakat Barat.

“Definisi kebahagiaan itu sangat personal, seperti halnya ikhlas bahagia juga tidak dapat diukur oleh parameter normal” tegas Mas Ardi. Dia juga mempertanyakan tentang kebahagiaan komulatif kita sebagai sebuah negara. “Apakah kebahagiaan kita sekarang merupakan kebahagiaan yang otentik?” tanyanya. Menurut dia bisa saja kebahagiaan yang kita miliki sekarang ini merupakan hasil dari Sindrom Helsinki, sebuah respon psikologis ketika pada kasus tertentu seorang sandra menunjukkan tanda kesetiaan kepada penyandranya tanpa memperdulikan bahaya dan resiko. Mas Ardi kemudian mengakhiri beberannya dengan memberikan sebuah pertanyaan mengenai perbedaan bahagia dan senang.

Sebagai moderator, Mas Dika, kemudian memberi kesempatan kepada Kang Yudi untuk sedikit menjelaskan mengenai pembuatan tema kali ini. Sebelum menjelaskan mengenai tema dia memperjelas, suatu kebahagiaan dapat dapat dipengaruhi oleh letak geografis dan budaya. Adapun mengenai tema Hayya ‘alal Falah, perlu juga untuk membahas mengenai kalimat sebelumnya yaitu Hayya ‘alal Sholah karena dua kalimat ini merukan satu kesatuan. Menurut Kang Yudi kata Sholah Juga dapat diartikan dalam sholawat karena memiliki satu akar kata yang sama.

Sebelum meneruskan pemaparannya, Kang Yudi mempersilahkan terlebih dahulu kepada Mbak Dina untuk menjelaskan terlebih dahulu mengenai pemahaman etimologi Happy atau bahagia. Menurut Mbak Dina, happy memiliki akar kata Happy atau dalam inggris lama berarti kesempatan atau keberuntungan. Apabila dideskripsikan happy memiliki ‘fisiologi’ berupa sebuah ungkapan dari perasaan, keadaannya tidak permanen, tidak intens datangnya dan bisa disebabkan oleh faktor luar dan dalam.

Selain happy adapun kata lain untuk menjelaskan perasaan serupa seperti pleasure. Akan tetapi dalam segi kedalaman rasa pleasure lebih singkat dan dapat dirasakan oleh panca indra. Selain dua kata tersebut, ada juga meaning yang menurut Mbak Dina memiliki kedalaman rasa yang lebih dalam dari dua kata sebelumnya.

Happy dan Meaning juga memiliki perbedaan yang lebih signifikan, dimana perasaan happy cenderung muncul ketika seseorang mendapatkan sesuatu (take) sedangkan meaning cenderung muncul ketika seseorang memberi (give). Selain itu perasaan dari meaning cenderung dirasakan ketika menjalankan proses suatu kegitan. “Perasaan dari meaning dapat terasa seperti ketika kita menolong seseorang” ujar Mbak Dina untuk memberi contoh.

Sebelum mengakhiri pencjelasannya Mbak Dina merespon penjelasan Kang Yudi mengenai Hayya ‘alal Falah dan Hayya ‘alal Sholah. Menurutnya untuk mencapai Falah memang harus menjalankan sholah seperti halnya dalam surat Al-‘ankabut ayat 45 tentang sholat mencegah dari perbuatna keji dan mungkar.

Kang Yudi kemudian melanjutkan pemaparannya mengenai tema dengan menjelaskan tentang etimologi ‘bahagia’ yang menurutnya berasal dari kata ‘bagi’. Jika ditarik lebih lagi dapat diartikan sebagai sebuah rasa yang muncul dari berbagi sehingga dapat menjadi kunci kebermaknaan hidup .

Selanjutnya dia juga menjelaskan kata falah juga dapat diartikan sebagai petani. “Lah ini juga perlu dicari tahu, soalnya ada hadits yang mengatakan petani kalau di surga nanti tetap ingin jadi petani” ujarnya sembari memberi pertanyaan kepada jamaah. Perihal etimologi bahagia, Kang Yudi kemudian menambahkan sebuah kelakar bahwa hal itu merupakan ilmu Otak-Atik-Gatuk, “tapi ojok diremehno Otak-Atik-Gatuk Jowo soale nek diperhatikno mane dadi Otak-Ati-gatuk” tutup Kang Yudi dengan tawa.

Setelah itu, Mbak Hilwin kemudian memberikan sebuah pendangan baru kepada para jamaah tentang pendefinisian kebahagian. Menurutnya mendefinisikan kebahagiaan bukanlah hal yang mustahil selama menggunakan rumus yang sesuai. Seperti halnya matematika yang mendefinisikan ‘angka’ melalui nomor yang merupakan penyimbol untuk mendiskripsikan sebuah ‘angka’. Selain itu, menurutnya definisi yang diberikan oleh PBB merupakan pendekatan yang bersifat material yang tertuju pada bertahan hidup bukan untuk tujuan hidup.

Relegi kali ini juga kedatangan tamu istimewa yang telah lama absen. Setelah lama absen Mas Cussy dan Mbak Almas yang biasanya datang ke Relegi dengan membawa gitar, kini ganti dengan membawa ‘kebahagiaan’ baru berupa buah hati. Dalam kesempatan kali ini Mas Cussy juga ikut urun untuk memberi pencerahan pada tema kali ini. “Kebahagiaan itu seperti sempak” celetuk Mas Cussy dengan canda khasnya, “soale kabahagiaan iku pribadi banget” lanjutnya. Selain berpendapat dia juga menambahkan pertanyaan yang unik kepada jamaan mengenai kebahagian ketika bertemu Tuhan. “Apakah saat bertemu Tuhan kita akan menemukan kebahagiaan? Soalnya Musa sampai pingsan saat bertemu Tuhan!” ungkapnya.

Selain Mas Cussy dan Mbak Almas, maiyahan kali ini juga kedatangan dr. Chris. Pada kesempatan kali ini dia menyambungkan pendapat Kang Yudi dan Mbak Dina mengenai Sholat. Menurutnya sifat wajib dalam beberapa hal ada karena kemungkinan manusia tidak mengetahui maksud dari hal itu diwajibkan. Dengan kata lain bentuk lanjut dari wajib sendiri adalah sebuah kebutuhan. dr. Chris juga sempat menyinggung mengenai obsesi masyarakat untuk selalu berprasangka baik, sehingga kerap menimbulkan Sindrom Helsinki. “Kita juga perlu ‘bersu’udzon’ untuk menimbulkan sifat kehati-hatian” ujarnya.”memang benar kalau su’udzon itu kurang baik tapi kan cuma sebatas pikiran tidak sampai pada tahap melaksanakan” terang dr. Chris.

Masih berlanjut perihal Sholat, Kang Yudi kembali menambahkan pemahamannya. Menurutnya sholat itu yang diperintahkan kepada kita bukanlah mengerjakan tapi menegakkan. Selanjutnya kang yudi juga memiliki permainan etimologis menarik yang masih berhubungan dengan take and give dalam kebahagiaan. Jikalau diperhatikan nama penjaga surga dan neraka dalam islam dapat digambarkan dengan karakter. Seperti Ridwan=Ridho=memberi, sedangkan Malik=menguasai=memiliki.

Kang Yudi juga menanggapi pernyataan Mas Cuzzy mengenai kebahagian. Dalam menaggapinya kang Yudi juga menggunakan sebuah etimologis dari kalimat Al Insanu Sirri Wa Ana Sirruhu yang artinya manusia itu rahasiaKu dan Akulah rahasianya. Dalam kata Sir yang artinya rahasia, memiliki akar kata dari Surur yang berarti kebahagiaan. ”Jadi kebahagiaan ada karena ketidak pastian” ujar Kang Yudi.

Kemudian Mas Dahri dan Cak Ilyas juga ikut urun mengenai pemahaman tentang kebahagiaan. Menurut Mas Dahri Kebhagiaan menurut Tuhan dalam surat An-Nur ada tiga yaitu sholat khusuk, mengerem hal buruk dan zakat. Sedangkan menurut Cak Ilyas Kejujuran dan menjadi kunci utama dan salah satu variabel dalam merumuskan kebahagiaan.

Mengenai Sholat yang mencegah perbuatan keji dan mungkar, Cak bagong juga berpendapat dengan kelakarnya. “Sholat iku wes pasti ngadohno teko penggawean olo, toh wong pas sholat mosok ape nyolong” Ujarnya. Selain itu Cak Bagong juga menjawab salah satu jamaah yang sempat menyatakan ada beberapa orang yang ketika mabuk atau sakau bertemu Tuhan. Cak Bagong kemudian menceritakan tentang kisah Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani ketika bertemu Jin yang mengaku sebagai Tuhan. “Allah itu Maha Suci dadi gak iso ditemui pas keadaan kotor” ujarnya.

Sebelum acara berakhir, Mas Dahri menyempatkan diri untuk membacakan sebuah puisi dari Mas Prayogi yang juga telah diposting pada website maiyah Relegi sebelumnya. Dan menutup pertemuan maiyah bulan ini Cak Dil memberikan saran kepada jamaah untuk memahami kebahagiaan tidak secara perrsonal saja namun juga pada kebahagiaan sosial. Cak Dil juga memberikan kisi-kisi untuk mengkaji kebahagian sosial melalui nilai yang ada pada masyarkat. Hal ini dikarenakan pada zaman sekarang terdapat banyak masalah pada nilai dalam masyarakat. Adapun maslah yang perlu dihadapi seperti polusi nilai, dimana nilai-nilai dari berbagai negara mulai masuk kedalam masyarakat kita dan secara perlahan mengaburkan nilai-nilai yang telah lama kita miliki