Hayya Ala al Falah dan Hayo Pada Bungah

Rasa bungah, gembira, nyenengke, marem dan lain sebagainya tercampur aduk di dalam dada ketika bisa menghadiri dan bersilaturahmi kembali dengan simpul maiyah Relegi Malang, atau akronim dari Rebbo Legi. Setelah beberapa purnama terlewatkan, akhirnya pada tema silaturrahmi yang berjudul  “Hayya ‘Ala Al Falaah” akhirnya diberi kesempatan dan ridlo oleh Tuhan untuk berkumpul bersama sedulur maiyah Relegi. Tema ini kabarnya lahir dari diskusi kecil yang saat itu juga ada Mbah Dil di dalamnya, kemudian digethuk – tularkan dalam bentuk sajak yang indah dan mendalam, yang digubah oleh Pak Prayogi R Syahputra dengan judul “Hayya ‘Ala Al Falaah.”

Sajak yang terdiri dari 5 bait kalimat tersebut, diramu dengan perenungan panjang, sehingga menghasilkan diskursus pemikiran yang beragam tentang pemaknaan kalimat yang menjadi bagian dalam adzan. berbagai pendekatan linguistik muncul ke permukaan dialogis. Dari bahasa inggris, arab sampai jawa yang menjadi ramuan intelektual dalam diskusi yang sarat akan kedalaman makna substansinya tersebut.

Al falaah yang secara etimologi berarti kemenangan, agaknya memberikan beragam perspektif yang lahir dari pendekatan personal jamaah maiyah, khususnya sedulur maiyah relegi yang hadir malam itu. Pada akhirnya mengalami sinkronisasi dan interpretasi atas kalimat Al Falaah itu sendiri. salah satu interpretasinya adalah kebahagiaan. Memang tidak bisa dipukul rata ketika menitikberatkan pembahasan yang bersifat relatif. Bahkan cenderung sangat privat. Karena tolak ukurnya beragam dan interpretatif. Bahagia sendiri mengalami keluasan makna ketika secara filosofis lahir dari kata “bagi” atau adum. Dengan kata lain ketika ada kesalingan untuk berbagi (apapun itu) maka akan menuju kepada satu ruang dan waktu yang disebut “bahagia.”

Mbah Nun menekankan bahwa manusia yang bahagia adalah manusia yang sempurna, di mana manusia dikatakan sempurna ketika dia mampu memerankan dirinya dengan apa adanya. Pendek kata manusia memiliki hukum yang berlaku dalam kehidupannya yaitu kejujuran. Untuk sampai kepada kejujuran maka perlu adanya kerelaan. Rela dengan adanya manusia tersebut, tanpa mengurangi rasa syukur dan semangat untuk mengembangkan diri dengan proses evaluasi atau taqwim.

Oleh sebab itu untuk menuju kepada kebagiaan perlu adanya konsentrasi dalam mempelajari kerelaan. Walaupun akan muncul beragam interpretasi dari sudut pandang masing-masing personal dalam mengungkap substansi dari kebahagiaan itu sendiri.

Ada pula yang memaknai kebahagiaan dengan ketenangan. Atau bersikap santai baik secara dlohir maupun batin.  Arih nafsaka min al tadbir, maka lebih tenanglah dalam setiap memutuskan sesuatu hal, mengukur, meneliti, dan lain sebagainya. fama qaama bihi ghairaka ‘anka la taqum bihi linafsika. Karena sesuatu yang sudah menjadi ketentuan di luar kuasanya bukan menjadi haknya. Dengan kata lain ada garis transenden atau spiritualitas yang harus dibangun untuk mencapai rasa bahagia. Hal inilah yang kemudian ditekankan oleh Pak Yudi Rohmad bahwa kebahagiaan itu adalah kenyamanan, yang mana manusia memiliki kecamuk dalam konteks “rasa.” Sehingga, ketika orientasinya adalah  “Tuhan” maka akan sangat kontekstual dan – bahkan konseptual. Salah satu ungkapan yang menarik dari beliau adalah “manusia memiliki kecenderungan atau asik dengan ketidakpastian.”

Siklus kebahagiaan sendiri memiliki saluran dan aktualisasi yang berbeda-beda. Karena itu pertanyaannya bukan apa itu bahagia? melainkan bagaimana bahagia itu? Apakah ia adalah proses sebab akibat? Atau memang satu lawan kondisional dari susah, gundah gulana, sedih dan lain sebagainya? dengan begitu akan muncul persepsi bahwa kebahagiaan itu lebih dekat dengan kondisi personalnya.

Lek Hammad pernah mengungkapkan satu analogi tentang kebahagiaan dalam arti kenyamanan dan ketenangan, yaitu: jika angin berhembus dan menerpa kita, pun hujan yang tiba-tiba menimpa badan kita maka sambutlah ia dengan salamun qaulan min rabbi ar rahim. Meluaskan hati dan pikiran dengan bersandar, memuji dan menyebut Sang Pembimbing yang Maha Pengasih. Ketika konsep legowo itu sudah tertanam maka beban yang menutup pintu kebahagiaan akan terbuka lebar-lebar. Kemudian disambung dengan perihal menanam benih, maka bukan bagaimana caranya agar  ia lekas tumbuh, melainkan kesetiaan diri dalam merawat, menyiangi dan menyiram benih tersebut. Perihal hasil panen bukan menjadi tolok ukur orientatifnya. Dengan kata lain, legowo juga menjadi salah satu proses yang menjembatani diri dengan rasa bahagia.

Oleh karenanya, Tuhan memberi standar  atas apa yang dinamakan kebahagiaan itu (bukan berarti secara interpretatif mandeg begitu saja) melalui kitab suci-Nya QS:23:1-5, 8-9 di mana ketika al falaah yang berarti adalah kesiapan diri dalam menerima kebahagiaan, keberuntungan di dunia maupun akhirat, maka Tuhan dengan secara jelas memberikan standarnya, yaitu:  Maka akan dikatakan beruntung (pun bahagia) adalah orang-orang yang beriman, memiliki prinsip transenden, dan sosial, kemudian mereka adalah orang yang mengerjakan sholatnya secara khusu’ (dalam arti luas, ada pengamalan ketika sholat secara praktik ibadah, pun memiliki pengaruh terhadap sikap sosialnya), kemudian mereka adalah orang yang selalu berpikir agar selalu bermanfaat, berguna untuk orang lain, kemudian mereka adalah yang peduli, simpatik kepada sesamanya yang sedang kesusahan, kemudian mereka juga bukan orang yang suka mencari kesalahan orang lain, di sambung di ayat 8-9 yang memiliki interpretasi mereka menjaga kejujurannya dalam setiap laku hati dan dlohirnya. (dalam hal ini menjaga amanah dan tidak mengingkarinya)

Dengan demikian hal yang paling substansial untuk menuju kepada kebahagiaan secara global adalah membangun sikap saling menghargai satu sama lain, menghormati satu sama lain. wilayahnya bukan perihal berprasangka buruk atau baik, tetapi olah rasa dan olah pikir yang mendalam untuk menciptakan sikap saling menjaga satu sama lain. Salah satu caranya adalah dengan membangun kesadaran bahwa manusia memiliki proses untuk saling mengenal dan memahami antar satu dengan yang lain. Pada akhirnya kebahagiaan itu bukan perihal memiliki atau mendapatkan apa, melainkan bagaimana proses untuk mendapatkannya.

*Ahmad Dahri, JM Malang, monggo seduluran, bisa di sapa di Lekdah91@gmai.com,