Catatan Seorang Ibu atas Hayya ‘Alal Falah

 

sumber: http://wajahhatimu.blogspot.com

Hayya alal falah. Begitu tajuk Relegi bulan ini yang dihelat di Kedai Pass, jalan Cengger Ayam tadi malam (22/10/2019).

Diskusi yang berujung runcing pada bahasan kebahagiaan itu makin malam makin hidup. Tentang apa itu bahagia, secara epistemologi, terminologi, teologi, berdasar pengalaman, mengenai kunci hingga kiat-kiatnya. Sebenernya gatel rasanya ingin urun bersuara, tapi kata-kata mandeg di ujung lidah selain karena belum menemukan kalimat yang pas untuk menjelentrekkannya, juga lantaran masih belum cukup genap nyali ini menampakkan diri di antara wajah-wajah bening seperti beliau-beliau yang hadir di forum.

Semoga tulisan saya – yang jauh dari kata sempurna ini – bisa mewakilkannya, dengan tanpa mengedepankan kebenaran pribadi ataupun merendahkan dan mengabaikan pendapat saudara-saudaraku semua.

***

Bismillah ya rohmaan ya rohiim.

Berbicara soal kebahagiaan, kayaknya agak kurang bisa diterima full partial untuk semua orang, sebab masing-masing punya definisi dan standarisasi kebahagiaan sendiri dalam hidup. Saya hanya coba untuk sharing sedikit mengenai apa yang saya pahami tentang apa sih itu bahagia.

Sepengalaman saya, kebahagiaan tidak jauh dari bab ketenangan. Kunci sekaligus substansinya ada pada ketenangan jiwa.

Ada yang menganggap bahwa bahagia itu didapat ketika mencapai titik kekayaan tertentu. Tapi banyak orang yang kaya namun masih saja gelisah dalam hatinya. Bahkan beberapa diantaranya mengasuransikan hartanya agar terjamin keselamatannya, demi apa lagi jika bukan untuk ketenangan? Tapi apakah dengan terjamin hartanya kemudian selesai? Apakah mungkin semua bisa dibeli dengan uang, termasuk kesehatan, kesejahteraan, keutuhan keluarga juga kebahagiaan?

Ada yang berpendapat bahwa kesuksesan adalah kuncinya. Sukses tercapai ketika apa yang dituju berhasil diraih, tapi apakah ada jaminan setelah sukses akan tenang dan bahagia seterusnya, sedangkan mustahil sebagai manusia tidak memiliki keinginan-keinginan, embel-embel harapan, target-target berikutnya sehingga membuat jiwa terus bergejolak?

Ada yang bilang, menikahlah dengan orang yang kita cintai maka kita akan merasakan bahagia. Apa jaminannya? Sedangkan bahtera rumah tangga bukan berarti selamanya adem ayem tanpa ombak-badai. Trus gimana dengan rumah tangga bersama orang terkasih tapi belum juga menemukan apa itu bahagia? Menurut saya, karena ketenangan. Dengan siapapun kita bersanding, sekeras apapun ujiannya, jika jiwa kita tenang, hati kita selesai, di situlah letak kebahagiaan. Pun dengan jomblowan jomblowati, kebahagiaan berasal dari ketenangan. Ada yang jomblo ngakik tapi hatinya bahagia. Ada juga si Jones (Jomblo Ngenes) yang jauh dari rasa bahagia karena saking seringnya galau, hatinya terus mobat-mabit, berbuih-buih, perasaan yang diaduk-aduk belum juga mengendap. Ia merasa tidak ada jaminan apakah nantinya akan ada orang yang pantas bersanding dengannya? Kapan? Siapa? Pertanyaan demi pertanyaan berputar terus dalam pikiran sehingga tanpa sadar menciptakan mindset yang ambyar.

Ibarat kopi yang baru diseduh, butuh cara dan momentum yang tepat agar ampas bisa mengendap, dan kopi bisa nikmat disruput. Kopi yang belum tenang-mengendap letheknya buyar jadi kopi tulup, air yang digoncang2 akan tumpah-tumpah, api yang yang bergejolak akan membakar dan menghanguskan yang lain.

Begitupun manusia. Manusia yang “sehat”, bila secara intens diberi goncangan, tumbukan, stressor dengan interval maupun takaran tertentu, tanpa bisa menenangkan diri sehingga emosi tidak stabil dan selalu di luar kendali, lama-lama akan terganggu jiwanya. Itulah mengapa tindakan awal para dokter kejiwaan untuk menangani pasien gila adalah dengan obat penenang, meskipun produk farmasi pasti mempunyai efek samping di kemudian hari. Maka senyampang masih sehat, harus kita sadari bahwa ketenangan adalah aset mahal yang perlu kita cari dan kita miliki.

Jiwa yang tenang akan lebih mudah dalam melakoni self-control, lebih mawas diri, waspodo, terhadap apapun yang berpotensi menggerakkan ambisi dan perilaku di luar batasan. Dan ini berlaku siklikal.

Seberapapun banyak harta gono gini, seberapa melas dan melaratnya perekonomian, seberapa kali pun ngenesnya hati kandas karena cinta yang ditolak, seberapa jenuhnya menghadapi diktat-diktat tebal perkuliahan, tugas-tugas kantor menumpuk dan pekerjaan rumah yang bejibun, serupa sebanyak dan seberat apapun stressor yang datang, kalau hati tenang efeknya tidak hanya bahagia tapi juga mental yang siap menghadapi berbagai macam iklim hidup, jiwa yang sehat, serta hati yang ikhlas. Efek sampingnya? Lelaku akan lebih total, lebih enteng, tidak berat dan nyeret2.

Kanjeng Nabi Muhammad SAW (Shollu alaih) adalah contoh yang paling sempurna untuk mentauladani apa itu bahagia. Dari kacamata kita sebagai manusia biasa, rasanya mustahil untuk menilik dimana sisi bahagia beliau, yang ujian kesabaran adalah makanan sehari-hari. Musuh yang senantiasa mengintai, fitnah yang bertubi-tubi, cemooh, perilaku yang tidak adil, beliau tetaplah Kanjeng Nabi yang menghadapi semua dengan tenang, melakoni semua dengan penuh kecintaan pada Sang Maha Hidup, dan juga tetap bahagia hatinya. Belum lagi gaya hidup yang sangat sederhana – yang kalau kita bayangkan di era modern seperti ini rasanya amat sulit sepenuhnya kita praktekkan. Ketenangan beliau terpancar pada teduh tatapannya, lemah lembut perangainya, kasih sayangnya bahkan pada orang yang mendholiminya, juga kebijaksanaan di setiap keputusannya. Sebab hati beliau telah tertambat pada satu Cinta yang Maha Menenangkan, yang menjanjikan Kebahagiaan Hakiki, yang menjamin kemudahan akan selalu menyertai kesulitan-kesulitan, zat yang Maha Teliti, Maha Adil, Maha Bijaksana, dan tak pula ingkar janji.

Hanya orang yang berhati tenang yang bisa membaca hingga di kedalaman. Hanya dia yang berjiwa tenang yang akan menampakkan kejernihan berpikir, kedalaman hati, serta keluasan cakrawala.

Semoga dengan ketenangan, keikhlasan, dan kebahagiaan, kita mampu menggapai Kemenangan Hakiki, kemenangan yang Sejati.
Amiin amiin amiin ya Robbal alamiin.

Hayya alal falah!!!

Wa billahi taufiq wal hidayah, wa ridho wal innayah.
Wassalamu’alaikum wa rohmatulloh wa barokatuh.

Omah Etan, 23 Oktober 2019
Selepas Relegi
-aL Lazuardi-