Matematika Kebahagiaan

Kebahagiaan. Apa kira-kira yang pertama kali terlintas di benak kita saat kita diperdengarkan dengan kebahagiaan? Apakah harta yang melimpah? Mau ini itu semua langsung bisa cling simsalabim ada di depan kita? Rumah mewah? Jabatan, kekuasaan, kekuatan? Atau apa?

Ada anak kecil yang cuma dibelikan permen saja sudah tertawa kegirangan bahagia. Tapi, apakah Anda juga demikian? Saat Anda patah hati misalnya, apakah langsung bisa amnesia dari kesakitan yang tengah Anda rasakan cukup hanya dengan sebuah permen? Atau, coba kita tengok ibu itu. Saat beliau diompoli buah hatinya, sang ibu tidak marah, tapi malah tersenyum renyah seolah mengekspresikan kebahagiaan yang tengah beliau rasakan. Tapi, coba posisi ibu itu digantikan oleh orang lain, kita misalnya yang bukan siapa-siapa dan tak ada hubungan apa-apa dengan si bayi tadi. Kita juga sudah dandan rapi dan wangi, tiba-tiba diompoli oleh adek bayi tadi? Apa kita juga akan merasa sebahagia sebagaimana yang dirasakan oleh ibu tadi?

Lantas, apa sebenarnya bahagia itu? Apa indikator bahagia? Adakah syarat-syarat yang harus kita penuhi untuk sekadar bisa merasakan bahagia? Mengapa bahagia anak kecil dengan bahagia kita yang tengah patah hati tidak bisa sama-sama ditawar oleh wujud benda yang sama? Mengapa bahagia sang ibu yang diompoli oleh bayinya tak bisa kita rasakan sama?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bahagia merupakan suatu keadaan atau perasaan senang dan tenteram, bebas dari segala yang menyusahkan. Dari sini, dapat dilihat bahwa bahagia, kebahagiaan merupakan sesuatu yang intangible, sesuatu yang tak dapat dinyatakan secara jelas. Karena bagaimanapun, perasaan setiap orang tidak lah sama, perasaan tersembunyi di kedalaman yang tak dapat dilihat secara kasat mata. Akan tetapi, tetap ada upaya untuk mengukur sesuatu yang tak kasat mata itu. Sebagaimana yang dilakukan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang telah membuat standar kebahagiaan. Setiap tahun, PBB melakukan survei di seluruh negara yang ada di dunia untuk menentukan orang-orang dari negara mana saja yang paling bahagia, sebut saja World Happiness Report.

Lantas standar apa yang digunakan oleh PBB tersebut untuk menentukan negara-negara mana saja di dunia ini yang paling bahagia? Di antara indikator yang digunakan PBB untuk mengukur kebahagiaan adalah tentang pendapatan, kebebasan, kepercayaan terhadap pemerintah, angka harapan hidup, jaminan sosial, dan kedermawanan. Dari semua kategori tersebut, Finlandia menjadi negara dengan nilai teratas. Artinya, Finlandia ditetapkan oleh PBB sebagai negara paling bahagia di dunia.

Benarkah demikian? Sebenarnya bagaimana keadaan di Finlandia hingga digadang-gadangkan sebagai negara paling bahagia. Apakah semua penduduknya benar-benar bahagia semua? Meski ada pro kontra tentang statement ini, tapi tak ada salahnya kita mencoba belajar dari ini semua. Ada yang bilang, bahwa penduduk Finlandia pun heran kenapa kok negaranya bisa disebut sebagai negara paling bahagia, karena jika bahagia dilihat dari ekspresi kebahagiaan yang dipancarkan, ada yang mengatakan bahwa penduduk Finlandia banyak yang ‘dingin’. Tidak seramah negara-negara yang justru mendapatkan peringkat kebahagiaan di urutan bawah, versi PBB.

Kendatipun begitu, ada juga yang membagikan pengalamannya selama seminggu di Finlandia. Berdasarkan survei CNN, Finlandia termasuk negara paling nyaman untuk ditinggali. Di antara alasan yang menjadikan Finlandia termasuk negara yang paling nyaman ditinggali adalah karena kejujurannya. “Kejujuran adalah resep makmur dan bahagia.”

Kemudian, bari coba kita bandingkan dengan diri dan lingkungan kita. Apakah negara kita, lingkungan kita, dan kita sendiri termasuk orang-orang yang berpendapatan tinggi? Bagaimana hak kebebasan kita? Angka harapan hidup, jaminan sosial, kedermawanan, keoercayaan terhadap pemerintah, atau kejujuran, baikkah semua kondisi itu pada diri dan lingkungan kita? Lantas, apa kita tidak bahagia?

Kebahagiaan memang intangible, immateri, tapi tak ada salahnya kita mencoba duduk bersama untuk mempelajari formulanya. Apa sebenarnya definisi dari bahagia yang sebenar-benarnya bahagia itu? Adakah rumus untuk menciptakan kebahagiaan itu? Mari kita sama-sama mencoba mencari dalam sinau bareng ReLegi pada edisi bulan ini.