Segitiga Cinta, Sholawat dan Geometri Tauhid

Pernah ada sebuah ungkapan dari seorang kiai di desa yang sempat lama menjadi pertanyaan. Sebuah pernyataan singkat namun serius mengenai manfaat bersholawat kepada Nabi.

“Sholawat itu, banyak sekali manfaatnya. Sehingga jika kalian banyak masalah seperti hutang, sulit belajar dan lain sebagainya, perbanyak saja membaca sholawat. Insya Allah nanti bisa beres-beres sendiri”. Seperti itulah wejangan terakhir yang saya dapat dari almarhum Yai Mad, panggilan warga desa kepada K.H Ahmad Muhammad Al-Hammad, yang juga merupakan pengasuh Pesantren Qomaruddin di Desa Bungah.

Sholawat yang selama ini saya anggap sebagai hal biasa, entah kenapa setelah wafatnya beliau memunculkan sebuah pertanyaan besar. Seperti kenapa yang dianjurkan bersholawat kepada Nabi, kenapa tidak langsung saja meminta kepada Allah? Apakah itu tidak seperti menuhankan Muhammad?` pertanyaan semacam inilah yang dulu sempat timbul ke dalam benak yang entah bagaimana sering saya abaikan karena takut menjadi ‘kafir’.

Meski selama perjalanannya perlahan-lahan jawaban mulai muncul. Jawaban sepert Surat Al-Ahdzab ayat 56 tentang Allah dan para malaikatnya juga bershalawat kepada Nabi. Atau tentang bertawashul melalui shalawat yang dapat dianalogikan seperti meminta sesuatu namun perantara orang yang paling dicintai itu lebih dapat terkabulkan. Merupakan sebagian dari beberapa jawaban yang telah saya dapat selama ini.

Namun ketika mengetahui tentang  konsep Segitiga Cinta –Allah, Muhammad, dan hamba– seakan jawaban yang pernah didapat tersebut dapat terhubung dan menjadi satu kesatuan serta memberikan sebuah ruang baru bagi jawaban lain untuk saling melangkapi.

Segitiga cinta Sebagai Sebuah Kerangka

Segitiga Cinta bukan hanya sekedar konsep, namun dapat menjadi sebuah kerangka untuk berbagai macam pendapat untuk menjadi satu kesatuan dan menjadi solid. Layaknya sebuah puzzle, Segitiga Cinta merupakan landasan yang memberikan kemudahan untuk memahami kedudukan hamba kepada Rasul dan Sang Kholiq.

Setiap orang memiliki pemahaman berbeda mengenai Segitiga Cinta. Begitu pun bagi saya pribadi. Apabila konsep segitiga cinta secara kasar dapat tergambarkan sebagai berikut,

Bagi saya pribadi konsep ini sangatlah kompatibel untuk menampung berbagai jenis informasi yang telah didapatkan selama ini. Ambillah contoh bentuk segitiga yang memiliki berbagai variasi dapat menjadi sebuah representasi akan hubungan hamba dengan Rasul dan Allah. Bisa berupa sama sisi (hubungan ketiga aspek memiliki keserasian), segitiga siku (hamba jauh kepada Allah namun dekat kepada Rasul) ataupun segitiga sembarang (hamba jauh kepada Rasul dan Allah). Adapun jaraknya antar ‘titik’ beragam tergantung setiap individu. Sehingga tidak salah juga jika kemudian dapat dikatakan sebagai sebuah “Geometri Tauhid”.

Selain itu konsep garis yang juga berasal dari kumpulan titik dapat menjadi sebuah analogi tepat untuk menggambarkan berbagai cara atau upaya yang diperlukan untuk mencapai ‘titik’ yang dituju. Katakanlah seperti jalan seorang hamba untuk mendapat hubungan kepada Rasul, disana terdapat sebuah ‘garis’ seperti melaksanakan sunnah, bersholawat, belajar, bersosial dan lain sebagainya. Melalui pemahaman semacam inilah kemudian akan timbul sebuah kesadaran akan apa saja kekurangan seorang hamba sehingga dapat menjadi sebuah introspeksi diri untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Apabila diperluas lagi, penggambaran lingkaran – yang merepresentasikan segala hal logika keduniaan – didalam segitiga dan terciptanya sebuah zonasi-zonasi yang merupakan wilayah dari mukjizat, keajiaban, kebetulan dan lain sejenisnya, merupakan pemahaman runtut mengenai ungkapan ‘perbanyak membaca sholawat dan nanti masalah bisa beres sendiri’ yang selama ini sulit dijelaskan secara rapi.

 Itulah beberapa pemahamahan yang saya peroleh ketika konsep Segitiga Cinta dan ilmu yang selama ini saya peroleh saling melebur. Tidak menutup kemungkinan pula melalui peleburan ini nantinya akan timbul sebuah pertanyaan dan jawaban baru yang kemudian akan menyempurnakan pemahaman mengenai hubungan hamba kepada Rasul dan Allah.

Sholawat, Lebih Dari Sebuah Kata

Adapun perihal sholawat, yang sering saya anggap sebagai hanya sebatas kata pujian kepada Rasul pun, ketika didalami kembali akan nampak sebuah Zonasi Segitiga Cinta yang akan sulit untuk dijelaskan. Terkadang melalui sholawat, baik itu yang sederhana atau berupa syair, tidak jarang bagi orang yang melantunkannya hanyut kedalam syairnya meski sebagian besar para pelantun pun tidak tahu apa arti dalam sholawat itu.

Entah dari mana kehanyutan itu berasal. Apakah dari melodi sholawat yang meyoritas sayu atau memang terdapat keajaiban disana yang sulit untuk dijelaskan melalui kata, namun yang pasti kesayuan itu sering tertuju kepada seseorang yang bahkan belum pernah dilihat sebelumnya yaitu Muhammad Rasulullah.

Adapaun melalui kehanyutan itu juga meski sebentar terkadang timbul sebuah kesadaran terntang betapa kurangnya kita saat ini. Sehingga tidak menutup kemungkinan juga hal ini dapat menjadi sebuah trigger bagi sebagian orang untuk merubah diri menjadi lebih baik.

Alhasil, sholawatpun dapat pula menjadi salah satu jalan untuk memciptakan sebuah garis bagi seseorang untuk mendekatkan diri kepada ‘titik’ Muhammad. Tidaklah salah kemudian memperbanyak sholawat secara ajaib dapat membantu mengatasi berbagai macam masalah?