Segitiga Cinta Sebagai Thariqot

Meski sempat absen sebentar pada Bulan Juni, karena bertepatan dengan malam Takbiran, Maiyah ReLegi edisi ke-75  akhirnya dapat terlaksana pada 09 Juli 2019. Mengambil tema Zonasi Segitiga Cinta. Sama seperti bulan sebelumnya, Maiyahan kali ini digelar di Kedai “PASS” yang berlokasi di Jln. Cengger Ayam No. 42.

Diawali dengan pembacaan ayat Al-Qur’an oleh Cak Adhim, forum kemudian dibuka oleh Hardika yang bertugas sebagai moderator. Walaupun Bulan Syawal telah lewat, bukan berarti ‘ruh’ dari Syawal juga ikut hilang. Hal itulah yang coba diterapkan oleh Hardika ketika maiyahan kali ini dibuka dengan ungkapan Minal Aidzin Wal Faidzin.

Diskusi kemudian dilanjutkan dengan pemaparan tema oleh Lazuardi. Segitiga Cinta sendiri, seperti yang telah diketahui oleh kebanyakan jamaah, merupakan hubungan antara Allah, Rasulullah dan hamba yang disimbolkan dalam bentuk segitiga.

Sedangkan semua hal yang kita lakukan dan miliki seperti pengetahuan, harta, negara dan lain sebagainya kemudian disimbolkan ke dalam bentuk lingkaran yang berada dalam segitiga tersebut. Segitiga disini berperan sebagai batasan untuk lingkaran, sehingga hal ini menegaskan bahwa sebesar apapun ‘lingkaran’ yang kita miliki pasti akan terdapat zona-zona yang tidak dapat dijangkau. “Maiyah mengingatkan ada hal-hal yang tidak dapat dijangkau oleh lingkaran” tegas Lazuardi, “Dan di zona itulah hal-hal seperti keajaiban, mukjizat, kebetulan dan lain-lain berada” lanjutnya.

Mas Ardi, panggilan jamaah untuk Lazuardi, juga teringat akan sebuah istilah ‘Anatomi Nilai’ yang dikutipnya dari salah satu puisi Mbah Nun. Yang kemudian dapat digunakan sebagai salah satu alat untuk melihat sebuah urgensi dari suatu hal. Melalui ‘Anatomi Nilai’, dapat difahami apakah suatu masalah yang ada itu termasuk kedalam bagian ‘kepala’, ‘tangan’, ‘kaki’, ‘badan’ atau bahkan ‘pantat’.  Sehingga dalam menghadapi suatu problem kita lantas tidak keliru dalam menempatkannya. “Masalah sekarang, sering segitiga tidak berada di luar namun malah berada di dalam lingkaran” paparnya.

Kemudian dilanjutkan oleh Cak Majid yang sekaligus turut menyumbang satu nomor sholawat Ya Nabi Salam ‘alaika, namun sebelum itu Cak Majid bercerita tentang awal mula Maiyah Malang. Pada Awalnya Maiyah di Malang lebih berfokus kepada musikalisasi, terutama sholawat yang notabene salah satu cara untuk menjalin sebuah hubungan kepada Nabi Muhammad SAW. Dan kini mulai berkembang, di samping melantunkan musik dan sholawat, juga berdiskusi tentang makna-makna yang terkandung didalam lagu-lagu tersebut.

Setelah itu, Cak Yogi kemudian menambahkan tentang penjelasan untuk tema Maiyahan pada malam itu. Tema Segitiga Cinta merupakan salah satu dari Sembilan Asas maiyah yang merupakan sebuah pelajaran ‘Alternatif’ bagi masyarakat awam, terutama dari kalangan ‘abangan’,  yang selama ini ‘sungkan’ untuk belajar lebih dalam tentang agama islam. Adapun 9 Asas Maiyah yang ada terdiri dari

  1. Dialektika Segitiga Cinta
  2. Perniagaab Dunia Akhirat (untung rugi di mata Allah)
  3. Tidak Keliru Menentukan Cara/Jalan & Tujuan (hancur karena menuhankan dunia)
  4. Peradaban Lingkaran/Bulatan (dari Inna Lillahi… sampai revolusi roda)
  5. Kebenaran, Kebaikan, Keindahan (Komposisi 3 dimensi nilai kehidupan)
  6. Langit dan Bumi (bangunan meninggi dan meluas)
  7. Asas Maslahat Mudharat (identifikasi diri dan perbuatan)
  8. Fardhu ‘Ain dan Fardhu Kifayah (tahu yang utama dan tidak utama)
  9. Mempersaudarakan Muhajirin dan Anshor (mentauhidkan kebudayaan)

Yang kemudian dilanjutkan oleh Cak Majid dengan melantunkan Kunci Lawang Suargo yang merupakan sholawat ciptaan almarhum Mas Zainul dari Kiai Kanjeng.

Bagi Cak Bagong, Segitiga Cinta dimaknainya sebagai sebuah jalan atau cara untuk menuju ke Cinta Sejati. Selain itu, dia juga menceritakan tentang pengalaman pribadi bersama dua temannya yang dalam hal ini juga terbentuk sebuah hubungan segitiga. Ketika ketiga orang ini mencapai keserasian dalam melaksanakan suatu hal, hal tersebut akan berjalan lancar dan nyaman, akan tetapi ketika salah satu atau ketiganya tidak mencapai sebuah keserasian meski yang dikerjakannya terlaksana namun tidak ada perasaan nyaman dalam melaksanakannya, tuturnya.

Rijal memiliki pandangan lain mengenai Segitiga Cinta. Selain dalam konteks universal, perefleksian segitiga cinta dapat juga diterapkan pada hal-hal dasar seperti mencintai seseorang. “Karena kesungguhan suatu cinta tidak akan dapat terlihat jika tidak ada ‘orang ketiga’” terangnya dengan canda. Selain itu, Rijal berpendapat sekaligus bertanya mengenai hasil akhir dari Segitiga Cinta, hubungan Allah, Rasul dan Hamba, yang akan berakhir pada suatu titik tunggal yaitu Allah SWT.

Setelah mendengar beberapa pemaparan dari beberapa jamaah yang lain, Za’im memaparkan pemahaman pribadinya akan tema malam itu. Dengan adanya konsep Segitiga Cinta dapat membantu masyarakat awam sebagai cara mendekatkan diri kepada Allah. Pemahaman bentuk segitiga yang tidak selalu sama sisi menjadi poin utama yang perlu diperhatikan yang sekaligus menjelaskan bahwa sering posisi hamba bisa sangat jauh kepada Allah. Sehingga untuk mencapai ‘titik’ Allah, diperlukan jalan memutar melewati ‘titik’ Muhammad yang lebih dekat kepada hamba dan Allah.

Disamping itu, selain konsep lingkaran di dalam segitiga, tidak menutup kemungkinan akan adanya segitiga-segitiga kecil dalam lingkaran dan didalamnya pun juga akan terdapat lingkaran lain dan seterusnya. Adapun komponen segitiga kecil tersebut dapat terbentuk dari berbagai aspek seperti ayah-ibu-anak dan lain semacamnya.

Selanjutnya giliran Mas Ancha yang juga ikut urun ilmu, menurutnya selain titik, dalam segitiga juga terdapat garis yang merupakan faktor utama untuk menghubungkan setiap titik. Begitupun dengan Segitiga Cinta, dari ‘titik’ hamba menuju ‘titik’ Allah atau ‘titik’ Muhammad diperlukan garis hubung. Sebagai contoh untuk mencapai ‘titik’ Muhammad diperlukan beragam komponen seperti bersholawat, bertawasul dan lainnya. Namun hal ini juga tergantung dari kemampuan setiap individu sehingga individu dapat memiliki berbagai macam ‘garis’ yang berbeda.

Setelah beberapa jamaah selasai menyampaikan pemikirannya, Cak Majid kemudian menyumbangkan sebuah nomor La Tahzanu untuk para jamaah. Cak Majid juga mengingatkan kembali bahwa dasar dari cinta adalah perasaan kangen. “Maiyah sendiri merupakan medium untuk memperoleh percikan-percikan kangen sehingga dapat mencapai suatu rasa cinta kepada Nabi” imbuhnya.

Setelah itu, Sapta, mengajukan sebuah pertanyaan mengenai alasan untuk mencapai Allah harus melalui perantara Nabi Muhammad terlebih dahulu?. Selain Sapta, Luki yang juga merupakan jamaah yang baru mengikuti ReLegi juga bertanya tentang cara untuk menciptakan hubungan yang simetris kepada Allah dan Nabi Muhammad.

Mas Adhim, Mas Wira dan Mas Gutur juga ikut urun pada malam itu dengan mengajukan pertanyaan. Mas Adhim yang bercerita sering tergoda akan berbagai macam hal ketika mencoba mendekat diri kepada Allah dan Rasul ingin tahu bagaimana cara untuk menciptakan sebuah perasaan rindu. Sedangkan Mas Wira, menambahi ‘kebingungan’ mengenai bentuk cinta kepada Nabi sendiri dapat diwujudkan dalam bentuk apa?.

Namun sebelum Mas Gunntur menyampaikan buah pemikirannya, Lazuardi ingin menjelaskan sedikit mengenai poster ReLegi untuk malam itu. Melalui penggambaran prisma yang disinari dan mengeluarkan pelangi, merupakan sebuah analogi untuk setiap hal apabila memasuki Segitiga Cinta akan menghasilkan sesuatu yang indah. Dan kemudian diteruskan oleh Mas Guntur dengan menjelaskan mengenai penghalang manusia untuk mencapai Segitiga Cinta yang juga berbentuk segitiga namun berupa harta-tahta-wanita.”Egoisme pemahaman title manusia sebagai makhluk yang sempurna juga merupakan halangan yang juga harus diatasi untuk mencapai Segitiga Cinta” imbuhnya.

Menjelang akhir, jamaah ReLegi diperkenalkan kepada tamu dari Maiyah Paseben Majapahit, Cak Huda. Cak Huda kemudian ikut menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan oleh Sapta dan Luki mengenai Nabi Muhammad dengan Surat Al-Ahdzab ayat 56 tentang Allah dan para malaikatnya juga bershalawat kepada Nabi. Selain itu dia juga menceritakan sedikit mengenai Paseban Majapahit dan logonya yang sangat berkaitan dengan tema malam itu, Segitiga Cinta.

Cak Majid pun memperjelas mengenai penjelasan Surat Al-Ahdzab ayat 56 yang merupakan sebuah konsep kesadaran diri seorang hamba. “Sholawat merupakan sebuah rasa terima kasih kepada Nabi karena memudahkan kita berhubungan kepada Allah SWT” jelasnya yang juga untuk menjawab beberapa pertanyaan lainnya. Dan untuk berterima kasih kepada Nabi Cak Majid mengajak para jamaah untuk bersama-sama melantunkan sholawat Hasbunallah.

Mengakhiri diskusi maiyahan ditutup oleh Cak dil. “Segitiga Cinta Dapat dikatakan juga sebagai sebuah Thariqot, sehingga diperlukan keotentikan untuk mencapai keberhasilannya ” jelasnya. “Untuk memperoleh segitiga yang sempurna dapat dimulai dari berfikir bahwa Allah dan Rasul juga mencintai kita” tambah Cak Dil. Beliau juga mengingatkan kembali kepada jamaah mengenai menghayati makna yang terkandung dalam sholawat yang juga diperlukan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah dan menciptakan perasaan kangen kepada Nabi Muhammad SAW. []

(Moh. Za’im Sholihul Abror)