Monolog Perdebatan

sumber: fizdi.com

 

/1/

Diam-diam angin menyapa tanpa gerak,

Tanpa irama yang dinamakan kesejukan

Tapi terasa begitu lebat dingin yang bertubi-tubi menyerang.

 

/2/

Di sebelah kanan menimpali dengan cuitan berbagai tujuan,

Kelak jadi belum tentu karuan, kata sebagian wacana dari samping yang berlawanan.

Kalau begitu apa wacana anda? Kata peserta lainnya.

Saya cuma mengusahakan kesejahteraan.

Dari pangan, pakaian, papan, sampai kantong para karyawan.

Kesejahteraan?  kog masih banyak kemiskinan. Dan jadi tema kampanye saling serang?

 

/3/

Bila Buana sudah menua, lantas bagaimana dengan para resi dan petua?

Diam saja, atau diam-diam menentukan siapa satrianya?

Dipingit atau dipungut adalah pilihan jalan rupa-rupa.

Yang penting air mengalir meluber membanjiri sudut-sudut kota.

Di desa tetap jadi senjata ampuh menjual suara.

Tapi jangan lupa, manusia berkembang sedemikian bertambahnya usia.

 

/4/

Kalau usang jangan dibuang!

Berikan saja pada peramu besi tua, pasti laku dan dapat kembalian yang melimpah ruah.

Seperti perda yang diotak atik matuk, kemudian dilanggar bersama-sama.

 

/5/

Jangan salah.

Orang bijak berupa udara, memberi lega di saat sesak dada.

Maka, itulah bagian proses kehidupan kita.

Karena berupa-rupa, ya seharusnya saling mengenal jua.

Bukan melihat sebelah mata.

Atau mengikat janji kemudian dihianati bersma-sama.

 

Pojok Rumah, 2019