Penyair IBS, Umbu dan Jalan Penyair

71 Tahun Penyair IBS

Hari menjelang sore ketika Saridin memasuki pekarangan luas dengan dua pohon sawo berusia puluhan –mungkin lebih dari seratus- tahun di tenggara keraton Yogyakarta Hadiningrat. Sejak memasuki halaman -Saridin melihat seorang laki-laki yang sudah menunggunya di kejauhan. Secara usia, sebenarnya laki-laki itu sudah sepuh. Namun, gurat wajah dan penampilan fisiknya nampak masih lebih muda 20 tahun dari usia yang sebenarnya. Laki-laki itu masih terlihat seperti hampir 20 tahun lalu: tampan, bertubuh sehat, rambut memutih sebagian dan berperilaku tenang. Meskipun sekarang, kulitnya nampak lebih legam. Dialah Iman Budhi Santoso, penyair liris yang kuat, yang narasinya kental dengan cuaca kejawaan, serta salah satu generasi pertama Persada Studi Klub Malioboro yang lejend itu.

Saridin sengaja datang kembali ke Jogja, dengan beberapa agenda. Salah satunya adalah memberikan ucapan selamat ulang tahun ke 71 kepada Penyair IBS. Sejak meninggalkan Jogja belasantahun lalu, Saridin tak pernah lagi berkomunikasi dengan Penyair IBS. Bertahun-tahun, Saridin berusaha mencari kontaknya. Akan tetapi, rupanya perlu waktu lebih dari 10 tahun sebelum akhirnya titik terang itu ada, ketika Penyair IBS menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Sabana.

Majalah Sabana ibarat de ja vu bagi para alumnus Persada Studi Klub, Umbu, dan Malioboro. Majalah Sabana “seolah ingin” melanjutkan cita-cita Kolom Sabana yang diasuh oleh Umbu Landu Paranggi. Kolom Sabana adalah kolom puisi paling bergengsi yang terbit di harian Pelopor Yogya era akhir 60an dan dekade 70an. Hingga, puisi-puisi yang dimuat di Sabana bisa disetarakan kualitasnya dengan puisi-puisi yang dimuat pada majalah Horison atau Basis.

Begitu tahu bahwa Penyair IBS menjadi pemimpin redaksi Majalah Sabana, Saridin segera menghubungi redaksi dan meminta nomor teleponnya. Betapa gembiranya Saridin ketika usaha lebih dari sepuluh tahun akhirnya memanen hasil. Akan tetapi, ketika hendak memencet nomor telepon genggamnya, mendadak Saridin ragu. Dia menganggap terlalu biasa ketika menghubungi orang yang sudah belasan tahun tak bertemu dan sudah dianggap sebagai kakak sekaligus gurunya, hanya dengan menelpon atau mengirimkan pesan singkat padanya. Saridin ingin sesuatu yang teatrikal, bahkan mungkin dramatis.

Maka, berbulan-bulan Saridin menahan diri menghubungi Penyair IBS. Dia merenung-renungkan dan mencari cara terbaik bagaimana membuat pertemuan kembali itu sebagai sesuatu yang teatrikal, indah dan patut dikenang. Seperti saat pertama kali dia ingin menemui Penyair IBS, di tahun 2000. Ketika suatu malam ditengah gerimis, dia mengayuh sepeda unta-nya ke taman budaya Yogyakarta untuk menyaksikan Penyair IBS membacakan puisi-puisinya, dan tiba-tiba mendapati tempat itu sepi. Tak ada acara pembacaan puisi. Karena ternyata, pembacaan puisi Penyair IBS di Purna Budaya, bukan Taman Budaya. Dua ruang budaya yang berbeda.

Satu setengah tahun lalu, setelah berpisah lebih dari 15 tahun, Saridin menulis dua carik puisi –hal yang lebih dari 15 tahun tak pernah dia lakukan lagi. Dua puisi yang akhirnya selesai setelah Saridin berusaha berjalan kaki, menapaktilasi tempat lahir dan masa kecil Penyair IBS di sekitar alun-alun Kiai Mageti.

Di usia menjelang 70 tahun, akhirnya Penyair IBS mengirim pesan kepada anak muda yang dulu ingin belajar menulis puisi kepadanya: Selamat, Di! Akhirnya engkau menemukan puisi. Betapa berdiri seluruh bulukuduk Saridin demi membaca pesan itu. Bukan pesan sekelas “sudah bisa menulis puisi yang bagus” atau “sudah mampu menulis puisi yang layak”. Bukan! Tapi “menemukan”, “menemukan puisi”, bukankah itu indah, Kawan. Segera, Saridin mengambang, melayang-layang. Bukankah itu semacam ijazah bagi Saridin bahwa dia telah layak dianggap sebagai penyair. Sesuatu yang dimasa muda ingin dikejarnya, namun akhirnya dilupakannya.

***

Saridin duduk di beranda, dan seperti dulu, segera terlibat dalam perbincangan yang memabukkan. Namun, ada yang berubah setelah sekian belas tahun. Dulu, ketika pergi mengunjungi sanggar penyair IBS di gang kecil di jalan Taman Siswa maupun di rumah tua dengan pekarangan luas di Gejawan Wetan, Saridin bisa leluasa langsung masuk ketika sang empunya tidak berada di sanggarnya. Saridin akan bertahan di sanggar sempit itu hingga berjam-jam, tanpa minum, tanpa bicara, hanya dengan membaca buku-buku koleksi si empunya. Kalau beruntung, dia akan bertemu ketika Penyair IBS pulang. Kalau tidak beruntung, dia akan menutup pintu sanggar yang tidak pernah dikunci itu lalu beranjak pergi. Namun sore ini, hal itu tidak bisa dia lakukan lagi.

Kadang-kadang, di hari-hari tertentu, Penyair IBS yang akan datang mengunjungi Saridin di kamar kost-nya di Kalibayem. Kalau sudah demikian, maka Saridin akan bergegas menggulingkan galon, menuangkan air isi ulang ke dalam teko pemanas air, lantas merebusnya. Saridin membuat kopi di tjangkir seng lengkap dengan lepek-nya. Setjangkir kopi nikmat buatan tangan Saridin, yang kadang-kadang digunakan Penyair IBS untuk membantunya menelan sebutir Param*x, obat sakit kepala.

Saridin juga penderita sakit kepala yang nelangsa, kemana-mana dia selalu menyiapkan P**dan Mig di dalam tasnya.Tetapi, dia tidak segila Penyair IBS yang berani menelannya dengan seteguk kopi. Menurut Penyair IBS, sakit kepala memang resiko yang harus diterima jika “engkau berbintang Aries”.Belakangan, Saridin tahu bahwa Nabi junjungannya juga penderita sakit kepala.

Suatu sore, pernah Penyair IBS berkunjung ke kamar kost Saridin. Waktu itu, seperti biasanya, Saridin sedang bermain bola bersama teman-teman kost Asrama Biadab-nya di lapangan SLB Kasihan. Tanpa setahu Saridin, hingga menjelang bubar, ternyata Penyair IBS telah duduk lama di pinggir lapangan, berlatar belakang Yamaha bebek 75 merah kesayangannya. Dia tidak mau memanggil Saridin, mungkin enggan mengganggu keasyikannya.

Tapi, belakangan Saridin berpikir lain. Mungkin, sore itu Penyair IBS sedang menyaksikan masa kecilnya kembali diputar di hadapannya. Ketika teman-teman sepermainannya habis-habisan bermain bola di alun-alun Magetan, sementara dia hanya bisa memandang, karena sang kakek melarang. Mungkin, dia menonton teman-temannya di ditengah lapangan dengan hati nelangsa, mungkin dengan menyimpan bara dendam. Anak-anak mana yang telapak kakinya tak ingin merasakan geli ketika menginjak rumput kalakanji? Rupanya, terpisah dari kehidupan teman-teman sepermainan ini. kelak akan mempengaruhi kehidupan, sepanjang usianya.

Pernah suatu ketika di musim kemarau, Saridin diminta Penyair IBS mengantarkannya ke pedalaman Gunung Kidul. Dengan motor bebek buatan China, Saridin membonceng Penyair IBS mendaki bukit pathuk, melintasi hutan jati, dan melangkah disela-sela tanah yang merekah. Sampailah mereka di kediaman seorang perempuan, dan tahulah Saridin ternyata selama ini Penyair IBS diam-diam memendam kesepian. Kesepian yang dalam. Bahkan, amat dalam. Tak berbeda dengan dirinya.

Maka, setahun lalu, Saridin berusaha menulis sepucuk puisi sebagai ucapan selamat ulang tahun ke 70 Penyair IBS. Puisi tentang daun-daun jati, tentang hutan yang mulai meranggas, tentang sepi dan lari. Akan tetapi, dia tak mampu mengakhiri puisi itu. Maka, sepucuk puisi itu pun tak pernah selesai, hingga hari ini.

Selama beberapa tahun, Saridin dan Penyair IBS terlibat hubungan dekat dan saling mengunjungi, mulai nyaris tiap hari hingga seminggu sekali. Meskipun jarak usia Saridin dan Penyair IBS terpaut lebih dari 30 tahun, namun Saridin sejak awal memanggilnya dengan sebutan: Mas. Tentu, ada banyak cerita dari pertemuan-pertemuan itu. Cerita yang bisa dibagi, juga yang tak mungkin dibagi. Mulai cerita tentang dunianya di Medini, di Boyolali, bagaimana dia “pergi”, dimana hidupnya selama masa “hilang” 8 tahun, apa saja yang dilakukan, bagaimana perasaannya kepada istri, bagaimana perasaannya kepada anak-anaknya, bagaimana mengisi hatinya, dan banyak lagi.

Belakangan, setelah kehidupan Umbu -yang bersama Penyair IBS membangun PSK di awal- dikuak misterinya oleh Cak Nun, bahkan oleh “anak”nya di Bali, Saridin bertanya kepada diri sendiri. “Apakah selama bergaul dengan Penyair IBS, sebenarnya dia juga menemukan paling tidak sedikit hal yang dialami oleh anak-anak PSK ketika bergaul bersama Umbu? Karena, bagi Saridin, antara Umbu dan Penyair IBS memiliki paling tidak sedikit hal yang serupa: Umbu lari dari kemapanan sebagai seorang Pangeran Sumba, sementara Penyair IBS lari dari kemapanan sebagai seorang Pegawai Negeri. Umbu memilih hidup tidak jelas di Malioboro, demikian halnya yang dipilih Penyair IBS. Umbu menjauhi popularitas, sedangkan Penyair IBS suka kesendirian. Dan yang penting lagi, Umbu membina anak-anak muda untuk menulis, sementara Penyair IBS selalu didatangi anak-anak muda untuk berguru sastra.

Paling tidak, antara Umbu dan Penyair IBS itu memiliki hal yang sama: misteriusnya, zuhudnya, kesepiannya. Umbu dan Penyair IBS memilih atau sekedar menjalani jalan yang nyaris serupa: memilih jalan setapak diluar keramaian, sendiri, dan sunyi. Beginikah “Jalan Penyair”?

Namun, jika ingin mengetahui siapa Penyair IBS, maka cari tahulah dari kesan yang tak tertulis dari judul-judul bukunya. Sebagai orang Jawa, IBS lebih menikmati menyembunyikan dirinya dibalik sesuatu, dan sebagai penyair, dia menyembunyikannya dibalik judul-judul buku.

Hari sudah maghrib ketika Saridin hendak pamit. Laki-laki yang nampaknya masih setengah baya itu, sepertinya belum merasa cukup berbincang. Kendati begitu, laki-laki itu menitip satu pesan kepada Saridin,”Teruslah menulis, tulislah dari sumber purba: mushaf. Biarkan yang sekarang, yang modern berjalan dengan cara berpikirnya.” Sampai melangkah pergi, tak ada kalimat selamat ulang tahun untuk Penyair IBS. Tapi, dia pasti tahu apa yang tak pernah disampaikan melalui kata-kata.

Jogja-Malang, 7-9 April 2019

Prayogi R. Saputra