Siapapun Pilihanmu, Allah Akan Minta Pertanggungjawabanmu

Yang utama ditanyakan kepadamu bukan siapa calon presiden (capres) pilihanmu, tapi proses yang terjadi dalam dirimu, hati dan pikiranmu, sampai akhirnya kamu menentukan pilihanmu.

Maka memilih capres tidak bisa sembarangan, asal-asalan, sesuka hati, apalagi bagi orang-orang yang berpendidikan. Memilih capres perlu ijtihad. Dalam ijtihad diperlukan tiga hal: niat, ilmu, dan petunjuk Allah.

Niat yang benar adalah karena Allah, untuk izzul Islam wal-muslimin, bukan karena kepentingan pribadi atau golongan.

Memilih pemimpin yang menjamin kebaikan agama, kebaikan hidup di dunia, kebaikan hidup di akhirat, terbukanya ladang untuk beramal saleh, dan tertutupnya pintu untuk berbuat maksiat, bagi semua orang. Bukan pemimpin yang sekedar diidolakan atau dipuja-puja. Bukan karena sentimen golongan, atau pemimpin yang menjanjikan jabatan dan harta.

Memilih pemimpin harus ada dasar ilmu. Pertama, ilmu tentang kriteria pemimpin yang baik berdasarkan tuntunan Allah dan akal sehat.

Kriteria pemimpin menurut Al-Qur’an adalah:

  • qawiyyun-amin, kuat (jasmani, rohani, intelektualitas, karakter) dan amin (jujur, dapat dipercaya, tidak suka bohong, tidak ingkar janji, tidak khianat) [Al-Qashash 26]
  • Adil dan bisa memegang amanat [An-Nisa 58]
  • Menguasai persoalan, kuat, tegas, memiliki rasa kasih sayang, bersih, menjamin keamanan dan perlindungan bagi rakyat [Al-Hasyr 22-23]
  • Pemimpin rabbani, yang mengedepankan pengayoman daripada kekuasaan dan puji-pujian [Al-Fatihah 1-4 ; An-Nas 1-3].
  • Pemimpin yang mengagungkan Allah, bersih pakaian lahir dan batinnya atau akhlaknya, tidak mengharap balasan lebih besar atau mencari keuntungan, dan sabar dalam memenuhi perintah Tuhan [Al-Muddatstsir 1-5].

Kedua, pengetahuan yang akurat dan valid tentang kualitas pribadi calon pemimpin, track record, dan kepemimpinannya dalam berbagai bidang, bukan pengetahuan yang manipulatif berbasis hoax dan pencitraan.

Manusia memiliki kelemahan dan keterbatasan dalam menilai atau menentukan pilihan. Terbatas pada hal-hal yang tampak, dan seringkali tidak mengetahui hakekat sesuatu. Yang dianggap baik boleh jadi buruk. Yang dianggap buruk boleh jadi baik. Maka mohon petunjuk dari Allah  dengan salat istikharah sangat perlu dilakukan.

Jika ijtihad sudah dilakukan dengan ikhlas dan benar, apapun hasilnya insyaallah akan dihargai oleh Allah.

Semoga Allah menuntun kita ke jalan yang diridhai-Nya. Amin.

Salam

(Ahmad Fuad Effendy)