Wanita dan Perjalanan Tasawuf

Tasawuf adalah proses dimana manusia menggali dirinya, mengukur dirinya. Tasawuf juga dikenal sebagai praktik kerohanian atau jika dikaitkan dengan pemahaman ilmu batin adalah olah rasa, yang nantinya memiliki output moralitas. Moral lebih dekat pada hubungan interaksi, bisa moral vertikal (Hablun min Allah) atau moral horizontal (Hablun min An-Nas).

Tasawuf memiliki pengaruh terhadap kehidupan spiritual, dimana kehidupan spiritual sejatinya merupakan fase setiap manusia berotasi pada eksistensi dirinya dan fokus utamanya terletak pada dimensi spiritualnya, yang mana nafs, ruh, qalb adalah sasaran dari kontemplasi tersebut yang lebih dikenal dengan asketisme.

Jika diruntun lebih jauh lagi, bahwa kehidupan asketis tidak dapat dipisahkan dari literatur dalam tradisi Islam, dimana dapat dijumpai sejumlah dalil-dalil dalam al-Qur’an maupun Hadits yang menegaskan potensi manusia terutama dimensi spiritual yang mampu meninggalkan belenggu jasmani (nasitiyah) untuk menanjak naik melalui potensi lahiriyahnya. Inilah yang menjadikan perbincangan seputar teori dan konsep yang lahir berikutnya menjadi unik dan beragam.

Manusia sebagai subjek dari tasawuf memberikan ruang berfikir dan bersikap memanusiakan manusia serta mampu menempatkan diri. Oleh karenanya objek dari tasawuf adalah manusia. Sehingga  jika tasawuf hanya dipandang sebagai orientasi dari kaum pria dirasa kurang objektif dalam perkembangan tasawuf itu sendiri.

Kaum pria akan memiliki metamor tersendiri dalam memahami dan mempraktikkan tasawuf, begitu juga wanita. Perlu digaris bawahi bahwa tasawuf memang belum atau bahkan tidak bisa jika dijadikan satu kesepakatan persepsi, karena tasawuf sendiri lebih mengacu pada kebebasan pribadi dalam mengabdi kepada Tuhan, jika ditekankan terhadap bagaimana tasawuf maka pengabdian adalah jawaban yang mewakili terhadap proses-proses tasawuf.

Wanita, dalam perkembangan ilmu kerohanian atau tasawuf memang tidak banyak disinggung, jika subjek dari pelaku kerohanian adalah manusia patut kiranya jika tidak membedakan antara pria dan wanita pada wilayah tasawuf. Padahal sejarah islam yang dipertegas dengan al-Quran mencatat beberapa nama wanita sebagai tokoh tasawuf, salah satunya adalah Maryam yang terekam dalam Qs. Ali Imran (3): 37:

Maka Tuhan menerimanya dengan penerimaan yang baik, kemudian mendidiknya dengan pendidikan yang baik pula, dan Tuhan menjadikan Zakaria pengasuhnya, dan setiap Zakaria masuk ke Mihrab (Kamar khusu ibadah), ia mendapati Rizki (makanan) di sisihnya, kemudian ia berkata “Wahai Maryam, dari mana engkau memperoleh rezeki itu?” Maryam menjawab, “Rezeki itu dari sisi Tuhan, Sesungguhnya Allah memberi rizki kepada siapapun yang dikehendaki-Nya tanpa disangka-sangka.”

Kisah Maryam yang diangkat di dalam al-Quran menunjukkan bahwa ada sisi kedekatan interaksi antara makhluk dengan sang Khaliq (Allah), penganugerahan yang tidak semua orang mengetahui bahkan mengalami inilah yang sering kali disebu sebagai olah rasa oleh kebanyakan orang sufi. Tidak semua pengalaman ruhani dapat diterima oleh kebanyakan orang, kecuali secara personal mengalami dan merasakannya. Sehingga ketika pengalaman ruhani itu diceritakan akan dianggap sebagai ungkapan yang keliru atau salah faham.

Dalam tradisi Islam, Maryam menjadi lambang ruh yang menerima ilham ilahi dan mengandung cahaya ilahi. Pemujaan terhadap makam Maryam membuktikan bahwa keteladanannya merupakan kenyataan yang hidup di negeri-negeri islam.

Wanita sebagai pelaku tasawuf sangat jarang-bahkan tidak disinggung, perkembangan Islam hanya menyinggung secara terus menerus tokoh laki-laki dalam hal pengembangan ilmu tasawuf.  Masa Rasululullah menjadi bukti bahwa ajaran tasawuf mulai muncul dan berkembang, ada beberapa tokoh wanita yang tercatat dalam hadits maupun sirah yang terkenal dengan kebaikan akhlaknya, kesucian jiwanya, dan keteguhan dalam berjuang serta bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah.

Hadits Nabi juga menerangkan secara jelas bahwa wanita atau pada teks hadits tersebut disebutkan “ibu” memiliki peranan yang sangat penting dalam tata kelola kehidupan, alih-alih kehidupan pribadi anak dan suami. Bagaimana mungkin Nabi Muhammad menyebutkan Ibu sampai tiga kali sebutan jika tanpa alasan bahwa ada sisi wanita yang dijunjung tinggi.

Dari Abu Hurairah RA. Datang seorang laki-laki kepada Rasulullah SAW dan bertanya, “Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti?” Rasulullah menjawab “Ibumu!” dan orang tersebut kembali bertanya, “Kemudian siapa lagi?” Rasul menjawab “Ibumu!” kemudian orang tersebut bertanya kembali “Lantas kepada siapa lagi ya Rasul?” Rasul menjawab “Ibumu!” dan orang tersebut bertanya lagi “Kemudian siapa lagi ya Rasul?” Rasul menjawab “Ayahmu!”

Hadits di atas memberi peringatan yang tegas bahwa wanita memiliki pengaruh yang besar dalam kehidupan, terlepas mereka sebagai ibu, istri, saudari, pegawai, dan lain sebagainya.

Wanita sebagai manusia diverbalkan dengan bentuk rasa dan penuhnya perasaan di dalam dirinya, walaupun faktanya wanita sebagai manusia juga memiliki intelektualitas yang tinggi. Sehingga patut kiranya jika wanita memiliki sisi spiritualitas yang tinggi pula. Kaum pria kebanyakan melihat wanita pada sisi feminimnya yang kemudian membentuk interaksi dengan wanita juga melalui sisi feminism itu pula.

Walaupun feminis sendiri belum memiliki pakem yang pas sehingga sikap atau sifat yang melekat dalam diri manusia dikatakan feminism atau maskulin. Rabiah al Adawiyah mengatakan bahwa “selamat dari perkara dunia adalah dengan meninggalkan sesuatu yang berkaitan dengan dunia,” dalam konteks ini wanita terlihat sangat erat kaitannya dengan dunia. Dunia yang dimaksud adalah perihal kesenangan, yang pada dasaranya kesenangan memiliki ukuran dan kategori yang berbeda-beda dalam diri setiap manusia, apalagi wanita.

“Janganlah setiap wanita menampakkan perhiasannya!” Qs anNur : 31, firman Tuhan erat kaitanya terhadap apa yang menghiasi wanita, entah yang membalut dirinya dari luar atau yang berada di dalam diri mereka. Dari sisi spiritualitas dan intelektualitas yang dimiliki wanita member ruang agar wanita mengabdikan sepenuh hatinya kepada Tuhan dan kekasihNya. Ayat di atas menjadi alasan dari setiap wanita yang mendaulatkan dirinya sebagai hamba Tuhan dan mengharapkan cinta dariNya.

“Tenangnya hatiku adalah tiada bagus dari dunia dan akhirat kecuali engkau Tuhanku, maka jangan engkau kumpulkan aku dengan kesepian dariMu dan siksaMu.” Kata Mu’minah seorang wanita Sufi dari Damaskus. Besar rasa cinta kepada Tuhan menjadi alasan baginya untuk mengabdi kepada Tuhan. Cinta menjadi alasan pertama dalam sikap menghamba seorang makhluk kepada Tuhannya. Pujian-pujian terhadap Tuhan dilantunkan dari bibir mereka, pengabdian mereka tampakkan dari setiap perilaku dan ibadah yang mereka kerjakan. Tuhan secara eksplisit menyebutkan pujian kepada makhluknya yang terkasih yaitu Rasulullah. Sehingga ada korelasi yang jelas ketika Tuhan memuji hambanya, maka hamba akan memujiNya denga sepenuhnya.

Pengabdian, menjadi jalan tasawuf kaum wanita dalam menjalani proses kehidupannya, bukan berarti kaum laki-laki tidak mengabdi kepada Tuhan dalam ranah Tasawuf. Dalam konteks tasawuf tidak bisa dibedakan antara pria atau wanita yang manjadi pelaku utama dalam menjalani prosesnya, yang pasti manusia memiliki hak untuk mengenal dan memahami tasawuf, jika demikian maka tidak memandang pada wanita atau pria sebagai pelaku utamanya.

Aspek cinta melahirkan pengabdian, penghambaan, pasrah dan keridlaan. Hal inilah yang kemudian mempengaruhi perasaan yang penuh dalam setiap tingkah laku dari wanita sufi.  Jika alasan dari setiap ibadah yang dilakukan oleh wanita sufi adalah cinta maka ketulusan adalah jembatan awal untuk mencapai kebahagiaan yang mereka rasakan.

Memang tidak mudah untuk membahas dan menjelaskan perihal cinta, disamping cinta bersifat relatif begitu juga beberapa sifat yang mengikuti cinta itu, pengabdian hanya sebagai proses untuk menunjukkan cinta itu, walau begitu pengabdian sendiri memiliki rumusan dan pola yang sangat sulit dan berat, yang mana tidak setiap orang mampu untuk mengabdi. Apalgai pengabdian itu tidak diiringi oleh pengharapan keduniawian, tidak ada embel-embel ingin dipuji dan dikasihani oleh orang lain. Dan meletakkan harapan hanya kepada Tuhan semata.

Cinta menjadi alasan utama bagi wanita-wanita sufi. Pengabdian adalah pintu masuk menuju ruang yang luas dalam memahami keridlaan dan ketulusan. Karena pemahaman cinta darisetiap pembaca dan pelaku berbeda, sehingga patut kiranya untuk memahami sifat-sifta yang melekat dalam cinta itu, karena tidak sedikit wanita sufi yang mengalami penderitaan menurut sebagian besar orang, tetapi dia sendiri merasa bahagia. Sya’wanah misalnya, wanita sufi yang selalu menangis setiap mengingat Tuhan, bahkan ia kehilangan penglihatannya, namun ia merasa bahagia saat ia mengingat Tuhannya dan menangis menyadari kekurangannya.

Kesadaran, adalah rasa yang kemudian menumbuhkan proses-proses pengabdian dan penghambaan. Orang-orang bijak mengatakan bahwa manusia adalah budak dari apa yang ia cintai, hidupnya akan dirundung dengan apa yang ia cintai, ia akan merasakan nikmat yang tak terhingga saat ia bersama atau sedang memeluk apa yang ia cintai, begitu juga dengan wanita sufi, yang pada dasarnya terpatri kuat di dalam hatinya rasa cinta kepada Tuhan, sehingga mereka mengabdikan seluruh hidupnya hanya untuk Tuhan.

Bagi orang-orang yang sudah berdekatan dengan Allah ta’ala, yang sudah banyak mentransformasikan berbagai karakter dan sifat-sifat hadiratNya ke kedalaman jiwa-jiwa mereka, terlampau kecil segala penderitaan dunia untuk merobohkan mereka yang kukuhnya melebihi kekuatuan gunung-gemunung di bumi ini.

Terlampau tinggi dan dalam ketika menelisik cinta dari setiap wanita sufi, karena di samping bersifat personal, cinta akan menempati pada ruang yang hanya pribadi tersebut mengetahuinya. Dan kamu benar-benar datang sendiri-sendiri kepada Kami sebagaimana Kami cipatakan kamu pada mulanya.

Dan apa yang telah Kami karuniakan kepadamu, kamu tinggalkan di belakangmu (di dunia). Kami tidak melihat pemberi syafaat besertamu yang kamu anggap mereka itu sekutu-sekutu Allah. Sungguh telah terputuslah semua pertalian antar kamu dan telah lenyap dari kamu apa yang dahulu kamu anggap sebagai sekutu Allah. (Qs. al An’am: 94), sebagaimana ayat tersebut para wanita sufi memandang perjalanan adalah sebuah proses kembali, di mana mereka akan pulang dengan tidak bersama siapapun, sehingga mereka talikan sekuat mungkin dirinya hanya kepada Tuhan dan mengenyampingan segala sesuatu yang melonggarkan tali tersebut. Wa Allahu A’lam.

Pojok Rumah, 2019