Ba’asyir, Manusia dan Kemanusiaan

Foto: Ustadz Abu Bakar Baasyir (UABB) njalani pemeriksaan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Selasa (29-01-2019)Ustadz Abu Bakar Baasyir (UABB) njalani pemeriksaan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Selasa (29-01-2019) Sumber: kiblat.net

Sungguh senang dan gembira ketika manusia dikabarkan sebagai hewan yang berdialektika, dalam hal ini ilmu logika ingin mengejawantahkan bahwa manusia memiliki potensi yang luar biasa. Bahkan urusan yang sangat kecil saja seperti buang air kecil, manusia diberi kreativitas agar anak kecil tidak ngompol sembarangan. Perkembangan logika ini biasanya ditandai dengan penemuan – pengembangan saint. (Red; Nicola Tesla dalam bukunya Kuntowijoyo; Titik temu Agama dan Saint)

Dengan demikian, tidaklah mungkin jika pembahasan tentang kewarasan berpikir hanya berkutat pada satu ruang saja, yakni sosial saja. Antropologi saja. Atau geografi, sosiologi dan logi-logi yang lainnya. Karena pada dasaranya sekecil apapun itu jika hasil dari buah pikir manusia maka akan sangat berharga dan menjadi warisan khazanah kemanusiaan.

Lantas bagaimana dengan sikap kemanusiaan Abu Bakar Ba’asyir (ABB)? Kontennya berarti agama. Dalil. Syara’. Fiqih. Aturan-aturan. PERPU. PERDA. AD-ART. dan symbol-simbol aturan-aturan. Pastinya kebenaran menjadi ruang yang tersekat. Karena pada dasaranya manusia harus memiliki Comon Sense. Mengapa demikian? Agaknya fiqih memang menjadi aturan-aturan yang bersifat eksklusif bagi madzhab yang lain, atau bagi wilayah yang lain. Buktinya, saking beragamnya manusia akhirnya madzhab (buku induk yang berisi aturan-aturan dari mursyid atau imam) terbagi menjadi empat. Maliki. Syafi’I. Hanbali. Hanafi.

Di mana Posisi Ba’asyir? Posisinya sebagai pelaku syara’. Sebagai subjek dari hukum atau aturan-aturan syara’ agama. Dengan begitu syara’ adalah hasil atau buah pikir manusia, dong? Hal itu adalah Tafsir atau pengembangan. Menurut salah satu agama hasil warisan Semit – Abrahamistik, yaitu Yahudi, yaitu Shafia yang mana adalah anak dari seorang pendeta Huyay, yang mana menjadi istri Nabi Muhammad. Dikenal dengan Hermeneutik. Bagi yang “merasa” ahl ass sunnah wa al jama’ah, Fiqih itu lentur. Dinamis. Tidak Stagnan.

Tetapi bagi yang “menganggap” dirinya paling mengikuti sunnah, fiqih itu bulat. Aturan tetap Stagnan. Tidak Bisa diganggu gugat. (ini agaknya saya mulai memihak kubu sebelah)

Abu Bakar Ba’asyir adalah penganut syara’ yang militan, terlepas dari wacana-wacana antek-antek wahabi dan zionis. Tetapi ada sisi di mana ia adalah penganut syara’ yang tegas. Dalil dan dasaranya pun tegas dan keras. Sehingga tugas kita yang “di luar” pola atau corak berpikirnya adalah menjadi manusia ruang dengan pola pikir yang lebih luas, bukan lunak. Tetapi mampu menempatkan Syara’ pada ranah sosial, tanpa harus mengubah Syara’nya. Agaknya munculnya Budha dan Hindu adalah proses keluar dari carut-marutnya syara’. Tetapi ini juga tidak menutup kemungkinan bahwa Hindu dan Buddha adalah produk dari Syara’ yang lunak atau bergerak dinamis.

Sehingga yang menjadi perdebatan adalah benar dan salah. Maka sampai bulan “dua” pun tidak akan ada titik temu. Di sisi lain syara’ yang digunakan sangat lentur, lembut, arif dan santun. Sedangkan di sisi lain syara’nya tegas, keras dan (amit sewu) tidak ada batas. Padahal ya… kita tahu sendiri (kecuali kalau menutup mata) manusia sangatlah beragam, apalagi kalau sangkut pautnya adalah kemanusiaan, pastinya harus lentur dan mampu menyerap. Karena sampai detik ini semua para agamawan (yang budayawan, intelektual, bijaksana dan arif pengetahuannya) meyakini bahwa A-Gamanya adalah “Kebaikan” bukan kebenaran.

Setidaknya ada ruang yang menyediakan setiap tokoh untuk berargumen dengan sejujur-jujurnya, apa adanya, murni bukan sketsa naskah prosedural yang diberikan Tim Kreatif atau Otak Intelektual (istilah yang sempat ramai di tahun lalu) padahal setiap otak memang dituntut untuk menumbuhkan intelektualitasnya.

Abu Bakar Ba’asyir memiliki pandangan realitas syara’ yang seharusnya dijalankan. Walaupun harus ada paksaan tetapi memang begitu syara’ mengaturnya. Sehingga bagi kubu atau golongan di luar Abu Bakar Ba’asyir melihat hal ini adalah kasus kemanusiaan. Dasar dan Patokannya pun ada. Maqhasid assariahyang mana mengatur kontektualisasi syariah dalam komunikasi sosial. Biasanya hal ini diterapkan dalam kontek kenegaraan, wilayah dan kebangsaan (kalau kita rakyat jelata ya… “yang penting baik kepada sesama cukup”). 1. Hak Beragama, 2. Hak Hidup, 3. Hak mengembangkan akal atau pengetahuan, 4. Hak berkeluarga (keturunan), 5. Hak memiliki kekayaan. Lantas apakah Ba’asyir tidak meninjau hal tersebut? Atau yang lebih parah, apakah Ba’asyir tidak memiliki rasa kemanusiaan? jawabannya adalah mengapa begitu banyak pengikut beliau? Dan yang jelas beliau juga punya keluarga yang menjadi prioritas tanggung jawabnya sebagai Khalifah fil ard.

Sehingga memang tidak ada titik temu antara kebangsaan dan Agama (syara’). Jika yang dilakukan hari ini adalah berebut kebenaran. Karena, jika harus berbicara kubu maka ada kubu Ba’asyir dan Kubu di luar Ba’asyir, yang mana sama-sama berebut benar. Lantas salahnya Ba’asyir di mana? Salahnya adalah memaksakan syara’ kepada khalayak umum, yang mana sejarah bangsa indonesia bukanlah sejarah syara’ tetapi sejarah peradaban kemanusiaan, perkembangan pola pikir dan pola sikap manusianya. Bukan pola agamannya. Toh sampai detik ini bangsa Indonesia masih memiliki 6 agama dan 187 penghayat atau kepercayaan. Dan apapun yang dipaksakan pastinya akan berimbas kepada bidang yang lain di dalam ruang yang besar, yang mencakup dan menaungi semuanya tanpa terkecuali.

Dengan demikian permasalahannya adalah moral, bukan perihaltua atau muda, sama saja. Ketika berusaha meniadakan orang lain dengan mendahulukan ego personal, maka secara tidak langsung egoisme personalnya menciderai moral personalnya, lebih-lebih arif dan sopan santun yang ada di bangsa ini. Karena budaya dan peradaban adalah ritus yang menjadi warisan dari kematangan dan kedalaman berfikir dari para pendahulu. Dalam hal ini kita tidak membicarakan agama. mengutip apa yang dikatakan Emha Ainun Najib bahwa Islam, Kristen, Yahudi, Buddha, Hindhu dan kepercayaan adalah isi dari dapur, bukan display atau hidangan yang ada di etalase-etalase. Dengan kata lain, silahkan berprinsip tetapi moral dan cinta adalah ruang di atas segalanya, bahkan (mohon maaf) termasuk agama.