Malam Sebelum Baasyir Divonis

Abu Bakar Baasyir (sumber foto: tribunnews.com)

Dalam beberapa waktu ke depan, sebagai respon atas situasi politik tanah air, Redaksi akan menurunkan tulisan berseri yang diambil dari tulisan Cak Nun dalam buku Nation of The Laughing People. Liberal Kafir Network and bla…bla…bla…

Buku tersebut tergolong unik karena sengaja dicetak terbatas sebagai buah tangan dari Cak Nun dan Kiai Kanjeng ketika melawat ke Eropa pada tahun 2004.

Karena usianya yang sudah mendekati 15 tahun, maka sebagian cerita dalam buku ini sudah seringkali diungkapkan oleh Cak Nun di berbagai forum. Akan tetapi ada keunikan tersendiri jika membacanya secara utuh dan dalam konteks menjelang pemilihan presiden saat ini.

Redaksi akan menampilkan tulisan secara acak dari buku ini dengan harapan agar sesuai dengan konteks zamannya.

Malam Sebelum Baasyir Divonis

Beberapa hari sebelum Abu Bakar Baasyir divonis oleh Pengadilan Negara di Jakarta, beberapa staf Baasyir menemui saya di Yogya, meminta saya berceramah kepada santri dan ummat Ustadz Baasyir di Solo. Saya diminta untuk meredakan emosi mereka dan menyejukkan hati mereka. Tidak ada argumentasi yang rasional yang bisa saya temukan untuk menolak permintaan itu, sehingga saya menyanggupinya.

Saya datang ke Solo. Memasuki tempat acara membelah kepungan Polisi dan Tentara yang seperti sedang ada perang. Tempat acaranya di sebuah halaman luas di tepi sebuah jalan besar di kota Solo. Remang-remang. Lampu-lampu tidak mencukupi untuk luasnya halaman. Saya tidak tahu apakah keremangan ini disengaja untuk menggambarkan suasana hati mereka, ataukah memang fasilitasnya tidak mencukupi.

Sekitar 400 orang duduk bersila, berpakaian sangat melambangkan model dan warna Islam. Suasana sepi dan tegang. Penuh duka dan keperihan. Tidak ada senyuman,  apalagi suara tertawa. Keadaan itu membuat saya memperoleh semacam parameter: tugas saya ini saya sebut berhasil kalau suasana mereka bisa berubah menjadi sedikit gembira.

Sebagaimana lazimnya orang Islam berpidato, saya memulai dengan salam, shalawat kepada Nabi Muhammad dan mengutip satu dua firman Allah. Kemudian saya memberanikan diri memulai dialog:

“Apakah kesunyian suasana di forum ini disebabkan karena Anda semua merasa tidak punya teman dalam perjuangan Anda?”

Seseorang spontan menjawab: “Allahu Akbar!” disusul serempak mereka semua meneriakkan: “Allahu Akbar!”

Saya tahu “Allahu Akbar” dalam nuansa itu berarti “ya”

“Berarti Anda Muslim sejati” kata saya, “Rasulullah Muhammad SAW mengatakan Islam dimulai dari keterasingan, dan akan kembali lagi ke keterasingan. Maka beruntunglah orang-orang yang terasing dan kesepian, karena itu pertanda Tuhan dekat di sisi mereka.”

“Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!”

Saya meneruskan pertanyaan “Apakah Anda semua berwajah tegang karena Anda sedang menemukan diri Anda berada di bawah tekanan dan penindasan?”

“Allahu Akbar!”

“Di bawah suatu kekuasaan yang lalim?”

“Allahu Akbar!”

“Yang memperlakukan Anda secara sangat tidak adil?

“Allahu Akbar!”

“Penuh kebohongan dan manipulasi?”

“Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!”

Kemudian sengaja saya diam sejenak, suasana saya biarkan tanpa suara. Sampai kemudian tatkala saya merasa sudah saatnya harus diberi suara lagi, saya pun meneruskan:

“Demi Allah perkenankanlah saya memberi saran kepada Anda semua, hendaklah Anda mencintai orang-orang yang menindas Anda, yang melalimi Anda, yang berbuat tidak adil kepada Anda…”

Sumber Foto: Times Indonesia

Sampai di sini tidak saya dengar “Allahu Akbar”. Saya teruskan:

“Saudara-saudaraku, hanya orang yang lemah yang merasa perlu menindas orang lain, dalam rangka agar memperoleh kepercayaan diri bahwa ia kuat. Hanya orang yang merasa dirinya tidak aman yang berbuat lalim kepada orang lain, karena ia meyakini bahwa orang yang berhasil dilaliminya pastilah tidak mampu membuatnya tidak aman. Demi Allah cintailah dan kasihanilah orang-orang semacam ini, karena hanya itu cara untuk menunjukkan bahwa Anda semua berjiwa besar.”

Terdengar “Allahu Akbar!”, kemudian bersusul-susulan “Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!”

Terus terang saya merasa lega dengan jawaban itu.

Saya coba meneruskan: “Orang yang berjiwa  besar tidak akan membiarkan dirinya ditekan oleh kesedihan. ketegangan atau rasa frustrasi. Bukankah benar demikian, saudara-saudaraku?”

“Allahu Akbar!”

“Saudara-saudaraku tegakkan kepala karena Allah menganugerahi kalian jiwa besar!” Astaga — meskipun tidak serempak, mereka benar-benar menegakkan kepala.

“Acungkan tangan ke atas untuk menunjukkan kegembiraan dan rasa syukur saudara-saudaraku kepada Allah yang menganugerahi kalian kebesaran jiwa!”

Allahu Akbar, sekarang saya yang bilang Allahu Akbar —mereka benar-benar mengacungkan tangan mereka ke atas.

“Farhan!” teriak saya selanjutnya.

“Farhaaaan!”, semua menirukannya.

Farhan artinya gembira bahagia.

Saya terus mengejar: “Besok Ustadz Anda divonis oleh Pengadilan Negara. Apakah Anda menyongsongnya dengan menundukkan kepala ataukah menegakkan kepala?”

“Allahu Akbar!”, serempak mereka sambil menegakkan kepala.

“Dengan rasa frustrasi atau semangat juang?”

“Allahu Akbar!”

Saya menyambungnya: “Allahu Akbar! Allahu Akbar!…” — kemudian saya fade in ke Allahu Akbar yang dilagukan, yang rata-rata mereka hapal lagu itu. Lagu Allahu Akbar dan sejumlah kalimat berikutnya, lagu yang sekian tahun yang lalu dipakai sebagai semacam Mars Musabaqah Tilawatil Qur’an.

Allahu Akbar, betapa gembira wajah mereka.

Setelah lagu usai, saya meneruskan: “Saudara-saudaraku, apakah Anda ingin Ustadz Baasyir dihukum ataukah dibebaskan?”

“Bebas!” — untuk pertama kalinya terdengar kata yang bukan Allahu Akbar.

“Kekuasaan yang mengadili Ustadz Baasyir ini kekuasaan yang prinsip nilainya sama dengan prinsip nilai Anda atau tidak?”

“Tidak sama!” terdengar suara serempak.

“Bertentangan!” seseorang menyambung.

“Jadi Anda minta kepada penguasa yang tidak seprinsip dengan Anda itu agar Ustadz Baasyir dibebaskan?”

“Allahu Akbar!”

“Anda meminta kebebasan kepada musuh Anda?”

Tidak ada jawaban.

“Anda meminta-minta kepada musuh Anda?”

Tetap diam.

“Mana yang lebih membanggakan dan bermartabat: dibunuh dalam kegagahan oleh lawan, ataukah Anda minta agar tak dibunuh oleh lawan?”

Semakin diam.

“Bisakah pikiran sehat Anda membayangkan bahwa kekuasaan yang bertentangan prinsipnya dengan prinsip Anda akan membebaskan ustadz Basyir?”

Teruuus diam.

“Mana yang Anda pilih: martabat atas prinsip ataukah keselamatan hidup tanpa prinsip?”

Tetap tak ada sahutan.

“Kita memilih hidup hina atau mati mulia? Saudara-saudaraku, demi Allah harus saya katakan bahwa Ustadz Baasyir sendiri tidak sedikitpun bermimpi, berpikir atau apalagi meminta untuk dibebaskan. Ketika beliau ditangkap di Rumah Sakit, beliau berteriak-teriak: Tembak saya! Tembak saya! — Apakah para muridnya akan mengucapkan kata yang bertentangan dengan itu: Bebaskan saya! Bebaskan saya!?”

Saya terus memberanikan diri meneruskan: “Ustadz Baasyir mengatakan bahwa kalau ia dipenjarakan, berarti cuti atau liburan. Kalau beliau dibuang ke pulau terpencil yang jauh, berarti piknik. Kalau beliau ditembak mati, berarti syahid. Dan Ustadz Baasyir beserta semua anggota keluarganya sudah ikhlas dengan kemungkinan-kemungkinan itu. Kenapa saudara-saudaraku di sini tidak ikhlas?”

Sampailah saya ke ujung pembicaraan: “Dan demi Allah perkenankan saya mengatakan kepada saudara-saudaraku di sini bahwa selama berada dalam tahanan, Ustadz Baasyir tidak pernah satu detikpun tampak kesedihan di wajahnya. Beliau bergembira. Beliau bangga dengan apa yang dialaminya. Keyakinan dan perjuangan selalu sangat luas dan agung, seluas alam semesta dan seagung Penciptanya. Sedangkan kematian hanyalah kerikil kecil yang kaki kita nanti terantuk olehnya. Beliau bergembira! Beliau Bangga!…”

Kemudian saya bernyanyi lagi. Dengan lambaian tangan saya mengajak mereka semua bernyanyi. Meskipun pelan-pelan, akhirnya semua turut bernyanyi, bertepuk tangan….

(Sumber:  Nation of The Laughing People. Liberal Kafir Network and bla…bla…bla…hal: 64-68)