Gempa, Jilbab dan Sepelenya Pilpres

sumber: kompas.com

Saya, istri dan anakku ketika itu telah terlelap tidur. Tiba-tiba gempa besar membangunkan kami. Lindu dengan kekuatan 7,3 SR mengguncang Kumamoto, Jepang.

Reflek, saya langsung merangkul anakku dan membawanya lari turun, kamar kami ada di lantai dua.

Ketika sampai di tempat parkir, ruang lapang yang saya rasa cukup aman, saya baru menyadari bahwa istriku tak bersamaan denganku. Baru sekitar 30 detik selepas saya celingukan, istriku baru terlihat menghampiri.

“Cari dan pakai jilbab dulu,” katanya.

Cerita itu saya hadirkan untuk memberikan analogi perihal bagaimana semestinya kita memandang peritiwa politik di negeri kita belakangan ini.

Di Maiyah sudah cukup akrab dengan istilah jarak pandang, sudut pandang, cara pandang dan sejenisnya. Pun dalam merespon fenomena masyarakat menjelang Pilpres dan Pileg, mestinya masyarakat Maiyah cukup cekatan dalam mempraktikkan formula di tersebut.

Misal dengan sedikit menarik jarak agar memperoleh sudut pandang yang lebih luas, maka gonjang-ganjing mengenai Pilpres bisa sedikit ditanggapi secara rileks.

Kesadaran bahwa ada sesuatu masalah yang lebih besar, lebih fundamental, maka akan membuat kita mudah untuk tidak terlampau menghabiskan energi untuk hal-hal sepele.

Pilpres sepele? Bisa iya, bisa juga tidak. Level seberapa pentingnya Pilpres tergantung jarak pandang, sudut pandang dan cara pandang tadi.

Aurat adalah hal penting, pada orang-orang tertentu, ia berusaha setengah mati untuk menjaganya. Bahkan pada situasi darurat yang sebenarnya bisa saja mengugurkan aturan menutup aurat. Istriku dengan jilbabnya saat gempa adalah gambarannya.

Ia mampu memenejemeni kepanikannya saat gempa sehingga tetap berusaha berjilbab saat ke luar rumah. Meski demikian, dia tetap menjaga kesadarannya dengan tidak perlu memilih jilbab yang bagus, yang cocok dengan baju yang dipakainya dan segala “keribetan” lain yang biasanya dialami perempuan saat memilih pakaian.

Pilpres dan jilbab tetap berposisi sebagai sesuatu yang tetap diperlukan. Namun adanya kesadaran bahwa terdapat masalah yang lebih besar membuat Pilpres dan jilbab itu dipandang secara tidak kaku.

Persoalan dan segala gegap gempitanya yang mucul dari akibat Pilpres bisa direspon secara luwes, rilek.

Maiyah juga mengenal istilah anatomi nilai. Jamaah Maiyah semestinya sudah punya kalkulasi yang lebih dewasa sehingga mampu menahan diri untuk tidak meributkan apakah harus pakai topi atau peci, padahal masalah utamanya adalah kepala sedang migren. Tidak perlu gontok-gontokkan untuk memilih siapa yang jadi supir busnya, sebab persoalan dasarnya ada pada mesin dan sasis busnya.