Reformasi, Refotnasi, Jalan Sunyi

Saya mengenang 1997 dan 1998 sebagai masa yang sangat sulit bagi rakyat Indonesia. Beras mahal, minyak mahal, harga barang-barang pokok kebutuhan masyarakat naik berkali lipat dari sebelumnya. Saya yang biasanya bisa beli satu pak rokok dengan uang jajan mingguan sebagai mahasiswa, tiba-tiba harus puas beli eceran/ketengan. Di koran-koran muncul berita: nilai tukar rupiah terhadap dolar terjun bebas tak kira-kira. Bank-bank dan pabrik-pabrik kolaps. Buruh dan pekerja berdasi sama-sama di-PHK. Siapa pun yang hidup di masa itu akrab dengan istilah ini: krismon atau krisis moneter.

Krisis moneter saat itu terjadi seiring dengan krisis sosial di mana ketidakpercayaan rakyat terhadap penguasa merebak. Situasi makin tidak menentu dengan bom demi bom yang meledak di banyak tempat tanpa diketahui siapa pelakunya. Dan setelah episode demonstrasi berdarah dan desakan sekian tokoh bangsa kepada Soeharto untuk mundur, akhirnya ia meletakkan jabatannya pada Mei 1998. Orang menyebut masa di mana Soeharto tumbang itu sebagai Reformasi.

Reformasi. Gagah betul namanya. Kata yang mewakili kerinduan rakyat akan perubahan. Kata yang mencerminkan dambaan orang banyak akan kesejahteraan. Setelah sekian lama ditindas, masyarakat ingin udara bebas dan hawa kemerdekaan. Namun kata itu nyatanya tak lama bertengger gagah di sanubari orang-orang bawah. Setelah sekian lama menanti, nyatanya ekonomi tak kunjung pulih. Harga-harga juga tetap mahal. Meski kebebasan berekspresi didorong seluas-luasnya dan dan kran demokrasi dibuka selebar-lebarnya (berwujud bermunculannya puluhan partai baru), namun perut rakyat tetap kosong. Rakyat yang kesal akhirnya memberi sebutan yang unik untuk masa-masa itu: Refotnasi.

Membuka buku kumpulan tulisan Cak Nun berjudul “Mati Ketawa ala Refotnasi” ini membuka cakrawala berpikir saya akan saat-saat bersejarah itu. Cak Nun, satu dari sembilan tokoh yang diundang Soeharto dan dimintai pendapatnya mengenai kondisi bangsa di saat-saat itu, menuliskan banyak catatan kritis tentang Reformasi yang kemudian secara berkelakar orang sebut sebagai Refotnasi itu. Kondisi saat itu, dalam pandangan Cak Nun, dapat dibaca minimal seperti poin-poin berikut:

  1. Krisis politik dan ekonomi yang terjadi haruslah dilihat sebagai output dari krisis-krisis lain yang telah membelit bangsa ini sebelumnya yakni krisis akhlak, krisis nilai, juga krisis budaya. Jadi yang pertama bermasalah dan perlu diperbaiki adalah manusianya. Perlu perombakan cara berpikir, cara melihat dan mengatasi masalah, reformasi mental dan reformasi kejiwaan.
  2. Bangsa Indonesia tidak punya pemimpin, tidak mengerti bagaimana memilih pemimpin, bagaimana akidah memimpin dan bagaimana etika dipimpin. Cak Nun mengambil analogi tim sepak bola. “Dalam tim bola ada kepemimpinan yang jelas. Yang memimpin mengerti bagaimana memimpin, yang dipimpin memahami bagaimana dipimpin. Pemain berhak menolak pilihan siapa pelatih yang menangani kesebelasannya, tapi begitu ia bergabung dalam tim dan sudah jelas pelatihnya, maka ia patuh. Maka ada perjuangan. Perjuangan pertama adalah kecerdasan dan kewaspadaan di dalam menentukan pelatih. Kedua perjuangan untuk percaya dan patuh kepada pelatih yang sudah ia izinkan untuk menjadi pelatih.” (hal. 26)
  3. Situasi kejatuhan Soeharto itu ibarat scrimmage dalam pertandingan bola. Scrimmage adalah sebuah istilah yang menggambarkan keadaan kacau didepan gawang di mana banyak pemain bergerombol, kaki-kaki dan tubuh bersilangan, bola tersembunyi di tikungan kecil dan tajam dalam irama yang sangat cepat dan tinggi. Kata Cak Nun “kita para pejuang pada suatu pagi bangun tidur dan menjumpai diri kita sudah berada dalam situasi brubuh di lingkup kotak penalti. Tiba-tiba bola masuk gawang. Soeharto berhenti dari jabatannya.” Semua merasa merekalah yang mencetak gol, merekalah pemecat Soeharto. Tidak ada yang mau menyadari bahwa gol itu pasti ada prosesnya.. “Tentu bola itu ada yang mengopernya dari lini belakang, ada yang menggiringnya di wilayah tengah lapangan lawan…” (hal.47)
  4. Reformasi belum beranjak dari rakaat pertamanya. Menurut Cak Nun, kita tidak melakukan  “fa man kana hijratuhu ilallah war-rasul, tidak mereformasikan keadaan menuju cita-cita panjang dan besar berdasarkan nilai abadinya Allah dan utusan-Nya. Tenaga sudah habis untuk menjatuhkan Soeharto, kemudian kita kebingungan sendiri oleh banyaknya Soeharto-Soeharto yang menguasai kita sekarang. (hal.60) Lebih jauh Cak Nun bahkan melihat bahwa tokoh-tokoh yang muncul di singgasana sejarah bangsa saat itu, alih-alih pemimpin yang dewasa, arif, memiliki kelembutan yang bisa menghibur rakyat di tengah kesengsaraan hidupnya, serta mampu mempersatukan semua kekuatan untuk menyelamatkan nasib seluruh rakyat secara bertahap, justru tokoh-tokoh yang terlalu lembek untuk menegakkan kepemimpinan nasional, sebagian lain malah sibuk dengan ketokohannya sendiri dan melupakan kebutuhan primer rakyat yang dimintainya dukungan. (hal.79)
  5. Perjuangan perjalanan reformasi berjalan tanpa konsep, tanpa ilmu, tanpa filsafah, tanpa rujukan wacana sejarah, juga tanpa kepemimpinan yang dewasa dan arif. (hal. 117) Dampak dari hal itu adalah bahwa bangsa Indonesia jadi tidak benar-benar paham apa yang mereka alami. Terlalu banyak kabut menyelimuti mereka. Belum lagi fitnah, disinformasi dan prasangka satu sama lain yang memperparah situasi. Masyarakat yang demikian itu, untuk selamat, menurut Cak Nun, harus ditolong langsung oleh Tuhan.

Jalan Sunyi. Jalan Shalawat.

Riuh rendah reformasi seperti digelorakan para elit sebelum hingga pasca 1998 tampaknya berakhir anti klimaks menyusul kejatuhan Soeharto. Reformasi yang mestinya membawa perubahan mendasar terhadap kondisi bangsa ini rupanya tak dirancang, apalagi dieksekusi dengan baik. Soeharto turun dari singgasananya, namun ternyata orang-orangnya terus bertahta, sebagian dengan pakaian baru, jubah baru, partai baru. Cak Nun sebagai salah satu pelaku utama sejarah saat itu, sejak dini telah mencium pembusukan gerakan reformasi. Dari dekat ia melihat perebutan peluang pribadi dan kelompok serta jatah-jatah masa depan menyusul kekosongan kekuasaan. Sebagian pemuka kelompok “menari-nari mempertunjukkan kehebatannya sendiri sehingga menimbulkan fanatisme sosial dan perpecahan rakyat”. Kekecewaan Cak Nun begitu mendalam menyaksikan “amarah, dendam, penghinaan kemanusiaan, dan anarki, serta semangat untuk ‘memakan daging’ saudara sebangsanya sendiri” yang terjadi saat itu. Sikapnya gamblang:  “Sudah, sekarang saya tak mau mengurusi negara, tidak mau mengurusi pemerintahan. Saya tidak apa-apa. Negara, no. Pemerintah, no. Soeharto, no. Habibie, no. Kabeh saya nggak mau tahu. Pokoknya rakyat saja thok sing yess.” Lalu ia memutuskan untuk mengambil jalan sunyi dan minggir dari pusat kekuasaan. Ia memilih bershalawat bersama kaum kecil di kampung-kampung.

“Saya sudah selesai menangis, sehingga tinggal senyum-senyum saja. Hati saya sudah tidak pernah berada di setiap pertemuan dan panggung-panggung nasional itu. Hati saya bertempat tinggal pada malam-malam hari, di mana saya shalawatan bersama rakyat kecil, keliling-keliling dari Cilincing, Warakas, Jakarta Utara, Simprug, Kalibata, Tanah Abang…untuk menyadari bahwa kalau kita nonton teve dan membaca koran, tema yang dibicarakan oleh para selebritis politik kita adalah perbutan dan pembagian kekuasaan, dan bukan apakah rakyat masih akan makan atau tidak.” (hal 120)

Kesibukan Cak Nun berkeliling shalawatan tersebut bukannya tidak mengundang pertanyaan masyarakat dan media. Menanggapi hal itu Cak Nun berujar: “Alasan saya shalawatan kenapa? Karena saya merasa tidak mampu apa-apa untuk bantu Indonesia. Karena Indonesia tidak mampu untuk ditolong lagi. Dari sudut manapun: sistem, birokrasi, SDM, manajemen, kepercayaan. Saya ngeri. Indonesia ini hanya mampu untuk ditolong Allah Swt. Saya ajak siapa saja shalawatan agar saling mengikat diri dalam kebenaran”. Forum shalawatan Cak Nun itu, dalam beberapa bulan saja kemudian sudah bergulir, puluhan hingga ratusan kali di berbagai daerah, segmen dan kalangan.

Forum itu terbukti, dalam bahasa Cak Nun sendiri “menjadi wahana pencarian Allah yang efektif, tempat dialog yang jernih, media pendidikan sosial politik yang terkontrol oleh iktikad baik, bahkan membuka diri bagi segala sisi komunikasi sosial yang positif, langsung dan efektif. (hal. 155). Forum itu mungkin bisa disebut sebagai pengajian, namun ia tidaklah seperti pengajian pada umumnya. Berbagai kalangan hadir dalam forum tersebut, dari mahasiswa dan pelajar, petani, pedagang, tokoh-tokoh lintas agama, lintas suku, intelektual dan sebagainya. Forum itu di kemudian hari dikenal sebagai Maiyah.

***

Judul buku: Mati Ketawa Cara Refotnasi
Penulis: Emha Ainun Nadjib
Penerbit Zaituna, Yogyakarta
Cetakan Pertama, September 1998
Tebal: 198 halaman