Pasti Tak Cukup Berbicara Saja

Tanpa kewajiban, tak ada yang mengharuskan, saya mengumpulkan dokumen terkait Cak Nun. Semuanya mengalir begitu saja.

Pada awalnya adalah perjumpaan saya dengan tulisan Cak Nun di koran saat saya SMP di paruh awal ’90an. Saya ingat betul, siang sepulang sekolah saya selalu pergi ke rumah Pakdhe untuk numpang baca koran. Kebetulan rumahnya tepat berada di samping rumah bapak saya. Saya puas-puaskan tiap hari membaca berita di rumahnya. Setelah melalap habis halaman olahraga, saya suka baca-baca halaman pertama. Di halaman depan itulah saya kerap menjumpai tulisan yang menggelitik. Tulisan itu dari pemilihan judulnya saja sudah unik dan bikin penasaran. Saya yang masih SMP pun tak terkecuali, tergerak untuk membacanya. Tulisan itu enak dibaca. Mudah bahasanya. Beragam topiknya. Pembaca dari segala usia pasti bisa menikmatinya. Ohya, di samping atau bawah tulisan kadang disertakan nama penulisnya berserta fotonya. Lelaki muda berkumis yang bikin tulisan-tulisan menggelitik itu bernama Emha Ainun Nadjib.

Di peristiwa lain saat SMP itu pula saya kali pertama menemukan beberapa buku Cak Nun. Saya tengah iseng melihat-lihat Perpustakaan Masjid Baitur Rahman, Kepanjen, Malang ketika saya melihat ada beberapa judul buku Cak Nun di situ. Saya beranikan diri untuk meminjamnya. Seribu Masjid Satu Jumlahnya, Yang Terhormat Nama Saya, adalah sekian judul yang saya coba baca di rumah. Beberapa bagian bisa saya nikmati. Sebagian lain rupanya agak sukar saya pahami. Ketidakpahaman yang saya cari-carikan alasannya: keterbatasan wawasan bocah kampung belia yang menginjak remaja.

Menginjak SMA, ada satu peristiwa yang sampai kini membekas di ingatan saya. Saat kelas 2 saya tengah main ke rumah kawan saya yang putra seorang dokter yang cukup terkenal di Malang. Di kamar kawan saya itu tersimpan rapi satu rak buku koleksi buku ayahnya. Dalam sekilas pandang kita langsung disuguhi pemandangan buku-buku Kedokteran dan Fisika mendominasi. Saya (lagi-lagi) iseng melihat-lihat buku-buku di rak itu ketika pandangan saya terantuk pada satu buku bersampul hitam pekat. Di sampul depan ada ilustrasi sebuah tang tengah mencengkeram potongan pita berwarna oranye. Wah buku Cak Nun! Slilit Sang Kiai! Saya tertegun. Saya pegang dan bolak-balik buku itu seraya mencoba mengaitkan buku Cak Nun dengan buku-buku eksakta tebal-tebal di sana. Lalu kawan saya menghampiri. Dia bilang buku itu punya ayahnya. Dia menambahkan bahwa ayahnya pernah satu dua kali datang ke Pengajian Cak Nun di Jombang. Makin terkejut saya. Wah Cak Nun punya pengajian. Wah Pak Dokter tahu Cak Nun dan malah datang ke pangajiannya.

Sekian waktu selepas SMA saya ingat pernah menyaksikan Cak Nun tampil di televisi. Bisa dibilang agak sering. Di Indosiar, Cak Nun pernah mengisi filler (tayangan singkat di sela-sela acara utama) bertajuk Cermin. Tayangan itu sangat pendek, mungkin cuma berdurasi semenit dua menit, di mana Cak Nun secara spontan berbicara tentang suatu hal. Tayangan ini dalam waktu singkat menjadi favorit banyak orang. Begitu fenomenal sehingga begitu banyak pengekornya di kemudian hari membikin acara serupa Cermin dalam berbagai bentuknya. Yang menarik, baru belakangan ini saya memperoleh informasi bahwa Cermin di Indosiar saat itu juga bersiasat agar dapat ditayangkan dalam situasi di mana rezim begitu represif. Dalam tema yang dibawakannya, sebesar 75% adalah porsi bagi Cak Nun untuk berbicara permasalahan universal. Sedang untuk soal yang frontal, misalnya soal kesenjangan sosial dan kekuasaan, porsi Cak Nun dibatasi 25%.

Pada era yang sama saat itu, makin deras tulisan Cak Nun muncul di berbagai media. Saya kerap menjumpai tulisan itu di surat kabar-surat kabar yang terbit di Jatim, yakni Jawa Pos, Surya, hingga Surabaya Post. Dalam waktu yang sama, di media-media lain, baik yang berskala nasional maupun regional, tulisan Cak Nun dimuat secara rutin: Kompas, Suara Pembaruan, Republika, Yogya Post, Suara Merdeka, Suara Karya, Berita Nasional, Tempo, Panjimas, Detik, Adil, Salam, Kiblat, Humor dan banyak lagi. Sebagian tulisan di media-media itu dibukukan.

Awal tahun 2000an itulah saya pertama kali, dengan uang sendiri, membeli buku Cak Nun. Buku itu berjudul Abacadabra Kita Ngumpet. Saya memperolehnya di sebuah kios di pusat buku bekas Sriwijaya yang terletak persis di seberang Stasiun Kota Baru, Malang. Seperti yang tertera di pengantar penerbit, buku yang tebalnya 38 halaman itu adalah penerbitan khusus. Ia mengiringi Pergelaran Puisi Emha dan Musik Kiai Kanjeng pada 1994. Masih kata penerbit, “dalam konteks sosial sekarang di mana komunikasi mengalami kemacetan, dan kebohongan terasa menghadang di mana-mana, maka ada baiknya kita percaya pada puisi, sebagai alternatif. Sebab puisi relatif bersumber dari kebeningan jiwa dan bermuara pada kelembutan serta ketajaman kata-kata yang memiliki kemampuan untuk menerobos celah-celah kemacetan maupun kebohongan tersebut.” Ohya, bila Anda kenal atau pernah mendengar satu lagu Cak Nun berjudul Jalan Sunyi, maka lagu ini sesungguhnya diangkat dari puisi berjudul sama yang ada di dalam kumpulan puisi tadi.

Saat saya coba berjualan buku bekas secara online sejak 2012, saya tak mengira bahwa itu adalah pintu bagi saya untuk mendapatkan buku-buku Cak Nun dalam jumlah banyak. Konsekuensi logis berjualan, saya perlu cari barang untuk dipajang. Saya mulai menyisihkan waktu mengunjungi lapak-lapak buku bekas di kota tempat saya tinggal maupun luar daerah. Bukan sesuatu yang istimewa sesungguhnya, mungkin hanya perlu ekstra sabar dan telaten dalam memilih dan memilah-milah ratusan buku yang teronggok dan kerap bercampur baur itu. Kios demi kios saya datangi. Jam demi jam berlalu. Keringat menetes tak saya perdulikan.

Perburuan itu kadang membuahkan hasil yang lumayan. Salah satu yang paling saya ingat adalah saat saya menemukan buku “Indonesia Bagian Sangat Penting dari Desa Saya” cetakan pertama yang diterbitkan Penerbit Jatayu, Solo, pada 1983. Buku berukuran kecil itu tak sengaja saya temukan terselip di antara buku-buku lain yang berukuran lebih besar. Melihat posisinya saat itu, tampaknya ia tak terjamah selama sekian lama. Pada kesempatan lain di waktu lain, saya memperoleh karya Cak Nun lain yang tergolong langka, yakni Kumpulan Puisi “Sajak-sajak Sepanjang Jalan”. Buku ini diterbitkan oleh Majalah Tifa Sastra Universitas Indonesia. Buku puisi Cak Nun ini ikut dalam sayembara kumpulan puisi yang diselenggarakan Tifa Sastra. Dari sekitar 40 kumpulan puisi karya berbagai penyair masuk, dewan juri, yang terdiri dari Ayatrohaedi, Sapardi Djoko Damono, dan Fauzi S. Abdullah menyatakan bahwa kumpulan puisi Cak Nun ini menjadi satu dari dua kumpulan puisi terbaik.

Saat mengunjungi lapak-lapak buku bekas di berbagai kota, kalau memungkinkan saya juga menjalin hubungan baik dengan mereka. Mungkin bisa bertukar nomor telepon, atau memulai pertemanan di medsos. Pertemanan model ini tak jarang juga mendatangkan berkah. Suatu ketika saya dikontak sesama pelapak buku. Orangnya sudah cukup berumur. Di antara pelapak ia sudah dianggap senior. Via sms dia bilang baru dapat buku Cak Nun dan menawari saya untuk melihat barangnya.

Saya senang tapi bersikap biasa, sebab kala itu sudah begitu sering memperoleh buku Cak Nun. Dari yang lama hingga yang agak baru. Ketika saya datang ke lapaknya saya kaget bercampur bungah bukan kepalang. Ternyata yang dia maksud buku Cak Nun itu adalah 3 jilid Buku Padhang Mbulan yang disusun oleh Cak Fuad bersama Cak Nun. Wah ini tidak sekadar langka namun sangat langka dan amat berharga sebagai sebuah dokumen perjalanan Cak Nun dan Maiyah. Buku ini diterbitkan oleh Penerbit AlMuhammady, Jombang, tahunnya tertera 1996. Buku jilid 1 bertajuk Seribu Tafsir Al-Quran, Jilid 2 Tafsir Singkat Surat Alfatihah / Ibu Qur’an bukan Bapak Qur’an, Jilid 3 Tiga Golongan Manusia / Samudra Alif Lam Mim. Dalam buku-buku tersebut, Cak Fuad menjabarkan materi, yang oleh beliau sendiri diistilahkan dengan tafsir tekstual, sementara Cak Nun menyajikan tafsir kontekstual. Buku tipis dan sederhana itu memang diperuntukkan bagi Jamaah Padhang Mbulan. Materi tertulis itu diharapkan bisa dibaca-baca dan menjadi perenungan bagi pembacanya di rumah masing-masing.

Perjalanan yang jauh dimulai dari satu langkah kecil. Peribahasa ini mungkin cukup tepat mewakili pengalaman saya mendapatkan karya Cak Nun. Tak cuma buku, akhirnya secara alamiah saja saya memperoleh dokumen Cak Nun dalam bentuk apa saja, dalam bentuk tulisan dan wawancara dalam majalah, penerbitan khusus, rekaman musik (CD dan kaset), rekaman audio visual (VCD, DVD) dan sebagainya. Beberapa kali rekan-rekan Maiyah di Malang memanfaatkan koleksi tersebut. Sesuatu yang saya sangat syukuri, semoga mereka memperoleh manfaat darinya.

Membicarakan Cak Nun memang seolah tak ada habisnya. Namun kita pasti tak cukup berbicara saja. Ada yang lebih urgent dilakukan yakni belajar darinya, dan sebisa-bisanya mencoba mengamalkannya. Semoga Allah senantiasa memberi jalan yang terang.