10 Kriteria Presiden

Cak Nun dan Cat Steven (Yusuf Islam) di London

Dalam beberapa waktu ke depan, sebagai respon atas situasi politik tanah air, Redaksi akan menurunkan tulisan berseri yang diambil dari tulisan Cak Nun dalam buku Nation of The Laughing People. Liberal Kafir Network and bla…bla…bla…

Buku tersebut tergolong unik karena sengaja dicetak terbatas sebagai buah tangan dari Cak Nun dan Kiai Kanjeng ketika melawat ke Eropa pada tahun 2004.

Karena usianya yang sudah mendekati 15 tahun, maka sebagian cerita dalam buku ini sudah seringkali diungkapkan oleh Cak Nun di berbagai forum. Akan tetapi ada keunikan tersendiri jika membacanya secara utuh dan dalam konteks menjelang pemilihan presiden saat ini.

Redaksi akan menampilkan tulisan secara acak dari buku ini dengan harapan agar sesuai dengan konteks zamannya.

Cak Nun dan Kiai Kanjeng ketika pentas di Eropa. Cak Nun menolak ketika panitia hendak melepas patung di backdrop. Dengan alasan,”menurut ummat kristiani itu patung Yesus. Menurut saya, sebagai orang Islam, itu patung biasa seperti patung-patung pada umumnya.”
10 Kriteria Calon Presiden
Kami adalah bangsa yang sangat memegang prinsip. Di dalam memilih pemimpin atau Presiden kami punya beberapa tingkat kriteria:
  1. Presiden yang baik adalah yang masih punya hubungan darah dengan saya.
  2. Kalau tidak ada hubungan darah langsung ya tak masalah, asalkan Presiden yang bersangkutan masih ada cantolan keluarga, entah dari besan atau sekedar saudara angkat.
  3. Kalau saudara sedarah tidak, saudara dari besan tidak, dan saudara angkat juga bukan, baiklah, asalkan Presiden itu punya hubungan baik dengan tetangga sebelah saya yang selama ini senasib sekemiskinan dengan kami sekeluarga.
  4. Kalau terpaksanya tak ada hubungan dan cantolan darah, saudara angkat atau tetangga, tidak masalah, asal Presiden itu berasal dari kelompok, golongan atau partai politik yang saya ikut di dalamnya.
  5. Kalau terpaksanya tidak sekelompok, tidak segolongan dan tidak separpol, tak jadi soal juga, asalkan ia melibatkan saya untuk turut aktif di dalam kekuasaannya.
  6. Umpamanya terpaksa tidak dilibatkan dalam kekuasaannya, tak soal juga, asalkan ada saudara atau teman saya yang dijadikan pejabat, sehingga saya bisa kecipratan sedikit-sedikit.
  7. Kalau tidak juga ada saudara atau teman saya yang diangkat jadi pejabat, tidak masalah, asalkan saya atau saudara saya atau teman saya diberi proyek usaha ekonomi, boleh perusahaan, boleh modal.
  8. Kalau perusahaan dan modal pun tak disediakan juga, tak apalah, asalkan saya dikasih pekerjaan yang memadai demi penghidupan anak istri saya.
  9. Kalau pekerjaan yang memadai tak disediakan juga, ya sudahlah asal pekerjaan saja cukuplah. Kalau tidak jadi Mandor, jadi kuli pun tak apa-apa, asalkan keluarga saya tidak kelaparan.
  10. Kalaupun sembilan syarat itu tidak dipenuhi sama sekali, ya sudahlah, tetap saya akui dia sebagai Presiden bangsa saya.(RR)
Sumber: Nation of The Laughing People. Liberal Kafir Network and bla…bla…bla…hal: 29-30