Embun 3: Idza Ja’a Nashrullahi wa al fath

sumber: idntimes.com

Idza Ja’a Nashrullahi wa al fath

Jangan Khawatir wong gusti Allah menjaga manusia dengan berbagai hal di sekitarnya. Dalam hal apapun. Entah disebut sebagai kekuatan alam semesta, kekuatan di luar kehendak manusia, kekuatan luar biasa, hal yang tak terhingga, atau apapun istilahnya. Dalam pandangan manusia yang beriman disebut Tuhan. Ia memiliki berbagai sikap dan sifat yang tidak bisa dijangkau oleh akal manusia, kecuali kesadaran dan ilmu pengetahuan.

Iya…ilmu pengetahuan, tidak sedikit yang memiliki pikiran rumit, saat melihat bendera terbakar tidak hanya dahinya yang mengernyit, tangan – tangan terkepal dengan suara yang memekik. Kalimah tauhid tiba – tiba mendapat tempat yang dirasa arif, padahal sejak suara adzan memikik di telinga kanan dan iqamah menjerit di telinga kiri. Kalimat Tauhid menempati sanubari di hati yang sangat tinggi. jadi jangan lupa bahawa simbol hanya sekedar simbol, yang terkadang tidak mewakili sama sekali terhadap substansi.

Di saat terbuka dan terkuak jeruji pengetahuan yang dangkal. Sekelompok orang berbaris sejengkal demi sejengkal. Menyuarakan titah yang sakral. Di sisi lain benar, namun tidak di sisi lain. Karena Tuhan menebar nilai yang harus dijaga, disiram dan diberikan buahnya kepada sesama manusia. Agar tertanam tali Tuhan yang selalu menjaga manusia dan seluruh alam. Sehingga beribadah di masjid-masjid, pesantren, bahkan masjlis-majlis kurang begitu diminati ketimbang aksi bela ini dan itu. Agama serasa barang baru yang diperjual belikan dengan sangat murah, di loak-loak bahkan di media-media online yang berjubel dewasa ini.

Maka tidak heran jika simbol agama lebih meriah ketimbang substansinya. Seperti halnya menjual barang, maka jual Ibarat tanaman, manusia memiliki tugas menanam dan merawatnya, apapun itu, dan Tuhan yang menolong menumbuhkannya, Tuhan yang memberi kesuburan dan menebarkan buahnya. Tuhan adalah Cahaya langit dan bumi, di mana pasti akan menghapus kegelapan dari alam luas ini, lebih-lebih alam mikro yakni manusia. Meminjam uangkapan Rumi bahwa “Kami adalah noneksistensi, hanya menampilkan ilusi keberadaan; Engkau Wujud yang Mutlak dan satu-satunya eksisten kami.” Oleh karenanya setiap manusia memiliki masanya masing-masing. Setiap masa memiliki waktunya masing-masing. Termasuk menyadari bahwa Tuhan tidak pernah melepaskan makhluknya begitu saja. Apalagi membiarkan masa dalam keterpurukan dan dipenuhi dengan awan hitam kedunguan.

Maka dari itu, kesadaran, ilmu pengetahuan dan akal budi yang nantinya menggiring manusia untuk berlaku sebagai semestinya manusia. jika memang hubungan social maka menghadirkan Tuhan dalam komunikasinya adalah warna dari moral etis yang dibawa Muhammad SAW.

Pojok Rumah, 2018