Embun 2: Jangan Merasa Paling Susah

sumber: hijaz.id

“Walaqad khalaqna al insāna fi kabad,”

Sudah sewajarnya jika manusia meminta kepada Tuhan. Yang paling sering meminta dan mengharap kepada manusia. Tidak disalahkan karena memang manusia sejatinya adalah memiliki tali yang saling berkaitan dengan manusia lain, pun makhluk lain. Zoon poloticon kata Aristoteles. Wa i’tasimũ bihablillāh kalau dalam al Qur’an.

Tuhan memerintah dengan sangat terang dalam Kitab Suci. Ud’unī astajiblakum, memintalah kepadaKu maka akan aku kabulkan. Dengan kata lain menyandarkan segala kepentingan manusia hanya kepadaNya. Sehingga manusia memiliki tujuan dan tempat yang jelas untuk sambat. Meminta. Berdoa. Berharap.

Namun, jauh dari pada itu, perumpamaan jawa mengatakan bahwa, “sak peti sak iki, apa sak gunung suk?” satu peti hari ini atau satu gunung di kemudian hari? maka tidak sedikit yang akan mengangkat tangannya dan berkata, “satu peti hari ini saja”. Akan ada bidang yang berbeda dalam satu ruang kepasrahan terhadap Tuhan. Jika berbicara kesempatan maka, tidak ada kesempatan kedua, oleh karenanya harus dikejar. Namun dalam ranah yang lain apakah demikian? jika terkesan terburu-buru maka permasalahannya adalah dengan pola sikap personalnya. Adapun keyakinan, setiap orang memiliki daya dan rasa yakin yang berbeda-beda.

Sikap pikir manusia yang cenderung terburu-buru mengakibatkan dirinya berada di wilayah timbal balik. Seperti yang kita tahu, banyak orang beribadah karena takut tidak mendapatkan tiket ke surga. Yang paling sederhana adalah kalkulasi pahala dan lain sebagainya. Benar memang, jika melakukan semua yang diperintahNya akan mendapat pahala dan sebaliknya bagi yang lalai, namun apakah mandek di wilayah tersebut?

Mengapa Tuhan menciptakan air yang sangat jernih sehingga menghilangkan dahaga, namun di sisi lain Tuhan menciptakan air yang keruh agar kita berhati-hati. Atau, mengapa manusia diberikan potensi yang luarbiasa olehNya. sehingga mampu menghadapi setiap kesulitan yang sedang dialaminya. puncaknya adalah ia berfikir. merenung. memahami. menyadari.

Jika saja sebagian manusia mengeluhkan permasalahannya kepada Tuhan, maka sebagian lainnya menuduh bahkan merendah-rendahkan dirinya di depan sesama. Bahwa ada yang mengeluhkan perihal kesusahannya, itu wajar. Tetapi akan ada pula yang berada di luar kewajaran. Mengeluh, sambat dan sejenisnya adalah proses yang baik asal tepat pada sasarannya, objeknya, tempatnya.

Maka, mengeluh adalah kewajiban bagi setiap manusia kepada Tuhan. Mengeluh menjadi jalan menuju prioritas makhluk terhadap Tuhan. Sehingga kesadaran yang dimiliki oleh seseorang adalah kesadaran untuk menyandarkan segala sesuatu kepada Tuhan.

Sayangnya, mengeluhkan kesusasan, kesedihan dan kesulitan selalu salah paham dan gagal sampai pada tujuan. Di samping pola pikir dan pola sikap yang berbeda-beda, seseorang juga memiliki kecenderungan yang berbeda pula. Saat kita sambat kepada sesama maka beragam kemungkinan yang akan diterima. Berbeda sekali ketika sambat, mengeluh dan curhat kepada Tuhan. Pasti dikabulkan walau kita tidak tahu kapan. Hal ini hanya perkara iman, keyakinan dan husnudzan kita kepada Tuhan, serta kewarasan berfikir dan bersikap sebagai khalifat fil ard. Yang mana sebagai Khalifah (pemimpin) dirinya sendiri dan orang lain, manusia dilengkapi dengan potensi Ahsan attaqwim.

Oleh karenanya, mensyukuri atas potensi diri adalah memahami wilayah dan ruang yang sepatutnya menggiring kita kepada kesadaran. Bahwa kita diciptakan dalam kesusah payahan, hal ini benar adanya. Susah dalam menyikapi hal yang beraifat manusiawi, watak, kecenderungan, kesenangan dan lain sebagainya. Pun susah dalam mengendalikan diri untuk bersyukur kepada Tuhan atas segala nikmatnya. Akan tetapi, ketika memasuki ranah kesadaran maka manusia akan lupa bagaiaman cara mengeluh kepada sesama dan hanya akan mengeluh dan ngalem kepada Tuhan. Untuk menyadari hal itu, hanya satu kuncinya. Yaitu bersyukur.

Pojok Rumah. 2018