Embun 1: Faja’a Rabbuka wa al Malaku Soffan Sofa

Sumber: grid.id

“Faja’a Rabbuka wa al malaku soffan sofa”

Akan ada berbagai dimensi pemaknaan yang berlangsung dalam proses penafsiran dari ayat di atas. Secara tekstual ayat di atas berarti Tuhan dan malaikat-malaikat yang berbaris mendatangi kita (mahluk). Jika dirunut kapan waktunya, maka pada hari akhir, hari di mana amal ibadah kita dihitung. Jika dalam konteks keimanan maka wajib hukumnya bagi setiap manusia beriman atas itu. Tetapi tidak sedikit dari manusia memiliki asumsi bahwa “kita tidak tahu hal itu benar atau tidak adanya, oleh karenanya jika pembuktiannya iman, maka akan berbeda dengan kondisi logis yang saat ini terjadi.” Sekeptis? Tidak juga.

Bagaimana jika kita mencoba memahami ayat di atas dengan menggunakan dimensi yang lain. Dalam hal ini pendidikan. Menimba ilmu. Memperluas akses pengetahuan. Belajar tepa slira. Dan lain sebagainya. Pada dimensi atau ruang ini, Tuhan secara terang menjelaskan bahwa setiap mereka yang berilmu pengetahuan luas (mendalam) maka akan diangkat derajatnya. Terlepas dari apa dan bagaimana jenis ilmu pengetahuannya. Yang jelas pada aspek kemanfaatannya, atau dalam ruang axiologisnya. Karena ibarat pisau, ia akan menjadi alat untuk melukai seseorang atau menjadi alat potong yang sesuai dengan semestinya. Begitu juga ilmu pengetahuan. Ia akan benar-benar bermanfaat bagi semua orang atau tidak. Tergantung bagaimana pemilik ilmu pengetahuan itu sendiri.

Satu keterangan dari khalifah al-anbiya’ tentang proses belajar mengatakan bahwa “setiap mereka yang mencari ilmu maka, setiap yang berada di bumi dan di langit akan mendoakannya.” Ditambah lagi “mereka akan berjalan di atas sayap malaikat saat mereka menuju ke tempat pendidikannya, dan akan berada dalam naungan sayap malaikat yang satunya.”

Pada dasarnya semua makhluk yang ada di muka bumi ini adalah pancaran Tuhan. hal ini disebutkan oleh Ar Razi. Mungkin akan terpisah dari Tuhan sedangkan semua atas kehendakNya. Kemudian dewasa dengan unsur-unsur sifatNya. Lantas, mengapa menunggu hari akhir, jika hanya untuk mendatangi atau sebaliknya didatangi oleh Tuhah. Padahal Tuhan dekat dengan kita bahkan lebih dekat dari pada urat nadi. Maka akan berbeda jika dalam setiap langkah kita menghadirkan Tuhan, sifat-sifatNya. Agar menjadi proses yang sesuai dengan kkehendakNya.

Dimensi ilmu pengetahuan adalah ladang subur yang seharusnya menjadi tumbuh kembangnya kesadaran. kesadaran yang membawa sikap pikir logis terhadap ruang penggunaan ilmu tersebut. aspek normatifnya adalah manusia dengan segala pengetahuaannya akan mendapatkan apresiasi atau sebaliknya, jika pengamalan ilmu pengetahuannya memberi manfaat atau tidak. Dengan kata lain yang menjadi titik balik dari adanya cinta Tuhan terhadap mereka yang berilmu adalah penghormatan dan apresiasi dalam bentuk apapun.

Ketika komunikasi yang baik sudah terbentuk karena adanya pengetahuan akan moral yang dalam, atau pengetahuannya sejurus dengan ruang kemanfaatannya maka akan menghasilkan kebaikan di setiap komunikasinya. Oleh karenanya akan sejalan dengan proses kehidupan. Di mana Tuhan memerintahkan dengan jelas bahwa berlomba-lombalah dalam kebaikan. Lantas bagaimana meraih kebaikan tersebut? dengan ilmu yang manfaat. Lantas di mana kaitan dengan ayat di atas? Nilai yang tertanam dari ilmu yang manfaat itulah pondasinya.

Keselarannya adalah pola kehidupan dengan pengetahuan yang dilakukan terus menerus. Sehingga orang lain merasa aman berada di sampingnya. Orang merasa bernilai berada di sisihnya. Dan orang merasa senang berada dalam lingkarannya. Karena ilmu pengetahuan bukan saja mengantarkan kepada tahu dan mengerti, tetapi menunjukkan bahwa cinta Tuhan tercurah melalui meraka yang memiliki pengetahuan dan pandangan luas, serta mengamalkannya.

Pojok Rumah. 2018